BAB 6 LAPORAN HASIL SURVEI (LHS)

BAB VI

HASIL SURVEI

 

6.1       Gambaran Umum Kabupaten Jombang

6.1.1    Karakteristik Fisik Dasar

6.1.1.1 Karakteristik geologi

Kabupaten Jombang memiliki struktur geologi yang secara umum tersusun atas batuan dan endapan lumpur kuarter dengan penyebarannya yang terwakilkan dalam bentuk morfologi dan unit-unit litologi. Kontrol struktur geologi yang kompleks, didapatkan di daerah didapatkan di daerah utara Sungai Brantas, sedangkan untuk daerah selatan Sungai Brantas hasil aktivitas vulkanisme lebih mendominasi.

6.1.1.2 Karakteristik geografi

Kabupaten Jombang terletak pada koridor bagian tengah wilayah Propinsi Jawa Timur, dengan luas wilayah 1.159,50 km2 atau sekitar 2,4% luas Propinsi Jawa Timur. Jombang terbagi menjadi 21 kecamatan, 306 desa (302 desa dan 4 kelurahan). Batas-batas wilayah Kabupaten Jombang adalah :

-          Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Lamongan

-          Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto

-          Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Nganjuk

-          Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Malang dan Kabupaten Kediri

Berdasarkan data geografis Kabupaten Jombang, administrasi pemerintahan ada 21 kecamatan dan 301 desa, 5 kelurahan. Kecamatan terluas adalh Kecamatan Kabuh dengan 13.1233 Hadan yang terkecil adalah Kecamatan Ngusikan dengan luas 34,980 Ha. (Batas administrasi kabupaten ditunjukan pada Peta 6.1)

6.1.1.3 Karakteristik topografi

Sebagian besar kondisi topografi wilayah Kabupaten Jombang (67,09%) cukup datar yaitu berada pada kemiringan 0-2º. Sedang sisanya adalah daerah berbukit-bukit, seperti Kecamatan Kabuh, Plandaan dan Kudu dengan rata-rata kemiringan 25º. Namun ada juga yang letaknya di pegunungan, yaitu Kecamatan Kesamben dengan rata-rata kemiringan > 45º. Kabupaten Jombang terletak pada ketinggian ± 44 m di atas permukaan air laut.

Kabupaten Jombang mempunyai potensi sebagai wilayah agraris, dengan topografi sebagai berikut:

a. Daerah pegunungan, dengan rata-rata kemiringan 40% di wilayah Kecamatan Kesamben (komplek Gunung Anjasmoro);

b. Daerah berbukit, dengan rata-rata kemiringan 2-15% di wilayah Kecamatan Kabuh, Ngusikan dan Plandaan (daerah utara Sungai Berantas). Daerah ini merupakan pegunungan kapur (Pegunungan Kendeng) dan banyak ditumbuhi Pohon Jati, akan tetapi di bagian utara daerah ini cukup baik untuk pertanian;

c. Daerah landai sampai bergelombang, dengan rata-rata kemiringan 0-2%, meliputi sebagian besar wilayah Kecamatan Jombang.

Berdasarkan pola relief topografi, Kabupaten Jombang dibagi menjadi tiga satuan morfologi, yaitu morfologi perbukitan struktural lipatan di bagian utara, morfologi dataran aluvial di bagian tengah dan perbukitan volkan di bagian selatan dengan empat klas kemiringan lereng, sebagai berikut:

6.1.1.4 Karakteristik demografi

Jumlah penduduk Kabupaten Jombang berdasar proyeksi BPS propinsi adalah 1.191.154 jiwa, dengan 273.917 rumah tangga/KK atau rata-rata 4 jiwa per rumah tangga. Tingkat kepadatan penduduk mencapai 1.027 / km2 dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Kecamatan Jombang sebesar 3.474 jiwa/km2 sedangkan yang terendah adalah di Kecamatan Plandaan sebesar 314 jiwa/km2.

6.1.1.5Karakteristik Klimatologi

Keadaan iklim khususnya curah hujan di Kabupaten Jombang yang terletak pada ketinggian 500 meter dari permukaan laut mempunyai curah hujan relatif rendah yakni berkisar antara 1750 – 2500 mm pertahun. Sedangkan untuk daerah yang terletak pada ketinggian lebih dari 500 meter dari permukaan air laut, rata-rata curah hujannya mencapai 2500 mm pertahunnya.

Kabupaten Jombang adalah termasuk yang mempunyai iklim tropis, sedangkan berdasarkan hasil perhitungan menurut klasifikasi yang diberikan oleh Smidt dan Ferguson termasuk tipe iklim D. Dimana tipe ini biasanya musim penghujan jatuh pada bulan Oktober sampai April dan musim kemarau jatuh pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober.

6.2       Gambaran umum Kecamatan Kesamben

6.2.1    Karakteristik Fisik Dasar

6.2.1.1 Karakteristik geografis

Kecamatan kesamben memiliki luas sebesar 50,64 km 2. Secara geografis kecamatan kesamben terletak pada 112° 20′ 01″ – 112° 30′ 01″ bujur timur  dan  7° 24′ 01″ – 7° 45′ 01″ Lintang selatan. Kecamatan Kesamben memiliki batas- batas sebagai berikut :

Sebelah Utara              :  Kec. Kudu dan Kab. Mojokerto

Sebelah Selatan           :  Kec. Sumobito dan Kec. Peterongan

Sebelah Timur             :  Kec. Sumobito dan Kab. Mojokerto

Sebelah Barat              :  Kec. Peterongan dan Kec. Tembelang

(Batas administrasi kecamatan ditunjukan pada Peta 6.2)

6.2.1.2 Karakteristik geologi

            Kecamatan Kesamben terletak di sebelah selatan Sungai Brantas. Sebagian besar merupakan tanah pertanian dengan sungai-sungai dan daerah irigasi yang tersebar dan cocok untuk pertanian. Untuk jenis tanah di Kecamatan Kesamben terdiri dari tanah asosiasi alluvial kelabu dan aluvial coklat kekelabuan.

6.2.1.3 Orbitasi Kecamatan

Kecamatan Kesamben berada pada wilayah Kabupaten dati II Jombang yang termasuk pada sub Satuan Wilayah Pengembangan bagian Timur Utara (Timur Laut) dengan pusat di Kesamben. Kecamatan Kesamben dilalui oleh jalur jalan regioanl yang menghubungkan Kabupaten Dati II Jombang dan Kabupaten Dati II Mojokerto karena letaknya yang berada di daerah perbatasan kabupaten dan jalur jalan lokal yang menghubungkan Kecamatan Kesamben dengan Desa Blimbing.(orbitasi kecamatan ditunjukan pada Peta 6.3)

Ibu Kota Kecamatan Kesamben terletak pada ketinggian 20 m diatas permukaan laut. Orbitasi Kecamatan Kesamben, sebagai berikut:

6.2.1.4 Karakteristik Topografi

Sebagian besar kondisi topografi wilayah Kecamatan Kesamben 44% merupakan daerah datar sampai berombak dan 56% berombak sampai berbukit yaitu berada pada kemiringan 0-2º. Kecamatan Kesamben terletak pada ketinggian ± 90 m di atas permukaan air laut.Secara topografis, Kecamatan Kesamben dibagi menjadi 2 ( dua ) sub area, yaitu:

  1. Kawasan Barat Ibu Kota Kecamatan yang terdiri dari 7 Desa yaitu : Desa Podoroto, Jombatan, Kedungbetik, Pojokkulon, Gumulan, Jatiduwur dan Kedungmlati yang lebih banyak didominasi tanaman Padi dan palawija.
  2. Kawasan Timur Ibu Kota Kecamatan yang terdiri dari 7 Desa, yaitu : Desa Kesamben, Watudakon, Pojokrejo,Wuluh, Blimbing, Jombok dan Carangrejo yang lebih banyak didominasi tanaman tebu.

Perbedaan tersebut disebabkan karena adanya ketersediaan air pengairan yang mengandalkan dari Waduk Mrican Kanan di Kediri sejak tahun 1985 dengan jarak tempuh 70 Km yang hanya mampu mengairi areal pertanian Tanaman Pangan khususnya Padi pada 7 desa bagian barat.

6.2.1.5 Karakteristiki Hidrologi

Kondisi hidrologi di kecamatan Kesamben dilalui oleh satu sungai besar yaitu sungai Brantas. Terdapat pula dua sungai sekunder yaitu sungai Melik dan sungai Sentul.

6.2.1.6 Klimatologi

Kondisi iklim di daerah Kecamatan Kesamben dari mulai tahun 2006 hingga 2009 mengalami peningkatan jumlah hari hujan per bulannya dalam 1 tahun. Sebagai contoh pada tahun 2008 di bulan Januari terdapat 11 hari hujan dan di tahun 2009 pada bulan yang sama meningkat menjadi 14 hari hujan dalam bulan Januari saja, begitu juga pada bulan-bulan yang lainnya, mengalami peningkatan atau tetap jumlahnya. Hanya saja pada saat bulan Desember tahun 2008 yang awalnya memiliki 13 hari hujan pada tahun 2009 berubah menjadi hanya 3 hari hujan saja, hanya di bulan Desember yang mengalami penurunan jumlah hari hujan.

Dengan melihat jumlah hujan per bulannya, frekuensi hujan terbanyak yaitu terjadi pada bulan Maret yang pada tahun 2008 memiliki jumlah hujan per bulan sebanyak 337 kali dan pada tahun 2009 memiliki jumlah hujan per bulan sebanyak 358 kali. Pada bulan-bulan tertentu jumlah hujan per bulan mengalami penurunan, yaitu pada bulan Oktober dan Desember, dengan penurunan yang signifikan hingga di bulan Oktober tahun 2008 yang memiliki 62 kali hujan per bulan menjadi tidak ada hujan sama sekali pada tahun 2009. Begitu juga dengan jumlah hujan di bulan Desember yang pada tahun 2008 memiliki jumlah hujan per bulannya sebanyak 246 dan di tahun 2009 turun menjadi 130 kali hujan per bulan.

6.2.2    Karakteristik Fisik Binaan

Karakteristik fisik binaan Kecamatan Kesamben dibedakan menjadi dua, yakni terbangun dan tak terbangun, lebih jelasnya sebagai berikut.

A.      Lahan Terbangun dan Lahan Tak Terbangun

Jika meninjau data dari Koordinator Statistik Kecamatan Kesamben pada tahun 2009, menyatakan bahwa jumlah lahan terbangun di Kecamatan Kesamben adalah 50,64 km2, Luas lahan tak terbangun sebesar 58 Ha. Luas lahan tak terbangunterdiri dari permukiman seluas 58 Ha. Sedangkan lahan tak terbangun seluas 212,1 Ha,  yang terdiri dari perkebunan seluas 90 Ha, tegalan seluas 60,1Ha.

6.2.3    Karakteristik Sosial

6.2.3.1 Kependudukan

Gambaran umum kependudukan adalah uraian yang menjelaskan kondisi eksisting mengenai data kependudukan di suatu wilayah yang dalam hal ini adalah Kecamatan Kesamben. Data yang disajikan berupa komposisi penduduk dan jumlah penduduk berdasarkan survei sekunder yang telah dilakukan sebelumnya. Data-data yang disajikan dalam gambaran umum bersifat informatif menggunakan tabel-tabel dan grafik.

A.    Jumlah Penduduk dan Jumlah KK

Berdasarkan data kependudukan Kecamatan Kesamben, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk total Kecamatan Kesamben pada tahun 2009 sebanyak 84.818 jiwa. Berikut ini adalah tabel jumlah penduduk Kecamatan Kesamben per desa tahun 2009.

6.3       Gambaran Umum Desa Blimbing

6.3.1    Karakteristik Fisik Dasar

6.3.1.1 Kondisi Geografi

Desa Blimbing merupakan desa dari 14 desa yang ada di Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang. Secara geografis desa Blimbing terletak di bagian timur ibukota Desa Blimbing memiliki luas daerah sebesar 319,5 ha. Desa Blimbing memiliki jarak 4 kilometer dari ibukota kecamatan, dan 27 kilometer dari ibukota kabupaten Jombang. Desa Blimbing mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut;

Sebelah Utara              : Sungai Brantas

Sebelah Timur             : Desa Ngingasrembyong, Kecamatan Sooko,Mojokerto

Sebelah Selatan           : Desa Jombok, Kecamatan Kesamben

Sebelah Barat              : Desa Wuluh, Kecamatan Kesamben

Desa Kesamben memiliki empat dusun, yaitu Dusun Blimbing, Dusun Karangri, Dusun Kedondong dan Dusun Prabon. (Batas administrasi desa ditunjukan pada Peta 6.4)

6.3.1.2 Orbitasi desa

Desa Blimbing  berada pada wilayah Kecamatan Kesamben Kabupaten dati II Jombang yang termasuk pada sub Satuan Wilayah Pengembangan bagian Timur Utara (Timur Laut) dengan pusat di Kesamben.

Desa Blimbing  dilalui oleh jalur jalan regioanl yang menghubungkan Kabupaten Dati II Jombang dan Kabupaten Dati II Mojokerto Ibu Kota Orbitasi Desa blimbing, sebagai berikut:

6.3.1.3 Kondisi Topografi

Kondisi topografi Desa Blimbing berupa dataran. Desa Blimbing terletak di ketinggian <500 meter dari permukaan air laut dengan kemiringan 0-2º. (kondisi topografi desa ditunjukan pada Peta 6.5)

6.3.1.4 Klimatologi

Keadaan Cuaca dan Iklim yang ada di Kecamatan Kesamben Desa Blimbing memiliki  jumlah hari dengan curah hujan yang terbanyak di wilayah Kecamatan Kesamben pada bulan Januari s/d Desember 2009 adalah 80 hari dengan banyaknya curah hujan 1.995 mm/tahun berdasarkan pengukuran di Pos pengukuran hujan UPT Pengairan dan pos pantau didesa Kedungbetik.

6.3.1.5 Hidrologi

Sumber air Desa Blimbing berasal dari sumur bor yang digerakkan melalui pompa air. Desa Blimbing tidak memiliki sumber mata air yang digunakan penduduk untuk keperluan sehari-hari. Desa Blimbing dialiri aliran sungai Berantas yang terletak di sebelah utara desa Blimbing. Sungai tersebut tidak digunakan warga sekitar karena tidak adanya alat yang digunakan untuk menggerakkan air sungai Berantas tersebut ke rumah- rumah warga.

Sedangkan untuk keperluan minum, memasak, dan mandi penduduk Desa Blimbing menggunakan air yang berasal dari sumur bor. Dengan mengalirkan menggunakan pompa air.

6.3.1.6 Geologi

Desa Blimbing terletak pada dataran rendah dengan lahan yang tergolong kurang subur sehingga tidak cocok untuk pertanian. Desa Blimbing mengalami kekeringan selama sejak tahun1985 sehingga tanah di Desa Blimbing sangat kering dan tandus sehingga tanaman pertanian terutama padi tidak dapat tumbuh subur di Desa Blimbing. Jenis tanah yang ada di Desa Blimbing yaitu Assosiasi aluvial kelabu dan aluvial coklat kekelabuan. Tanah Assosiasi aluvial kelabu merupakan jenis tanah yang cocok untuk tanaman tebu, sehingga mayoritas petani desa Blimbing merupakan petani tebu.

6.3.2    Karakteristik Fisik Binaan

6.3.2.1 Data Penggunaan Lahan Desa

Penggunaan lahan di Desa Blimbing terbagi dalam beberapa kelompok, yaitu permukiman, perkebunan tebu (sawah), tegalan, dan lainnya.

A.                Luas Wilayah Desa Menurut Penggunaan

Kondisi pertanian yang ada di desa Blimbing tersebut dapat berupa permukiman, kebun, tegalan, dan penggunaan yang lainnya. Hal ini yang dapat mempengaruhi pendapatan masyarakat di desa tersebut dan yang dapat menentukan mata pencaharian apa yang cocok untuk penduduk di desa Blimbing. Hal tersebut dijelaskan secara rinci pada gambar diagram berikut:

Dari diagram yang terlihat tersebut dapat dijelaskan rincian desa Blimbing dalam penggunaan lahannya. Desa Blimbing menggunakan lahannya sebagai permukiman sebesar 46,5 Ha, penggunaan lahan sebagai kebun sebesar 204 Ha, penggunaan lahan sebagai tegalan sebesar 60 Ha dan 9 Ha untuk penggunaan lahan lainnya seperti sarana. Luas lahan pertanian desa Blimbing menurut jenis pengairannya yaitu menggunakan jenis pengairan teknis sebanyak 206 Ha, dan menggunakan teknis tadah hujan sebesar 6,1 Ha.

Penggunaan lahan tidak terbangun biasanya digunakan untuk hasil pertanian perkebunan (sawah) dan tegalan, seperti Jagung dengan luas 60 Ha, Tabu 90 Ha, Pisang dan ketela sebagai perkebunan penunjang yang ada di perkebunan rumah. Untuk padi dan kacang kedelai bukan hasil komoditas pertanian di Desa Blimbing karena Desa Blimbing memiliki masalah kekurangan air untuk irigasi.

B.                Tata Guna Lahan Desa

Penggunaan tanah di Desa Blimbing umumnya digunakan sebagai permukiman, perkebunana tebu, tegalan, dan lainnya. Pengunaan lahan fisik binaa berupa permukiman dan  bangunan, seperti perdagangan, kantor pemerintahan, sekolah, balai kesehatan, dll, sedangkan untuk penggunaan lahan fisik non binaan digunakan untuk perkebunan/sawah dan tegalan, seperti komoditas tebu sebagai komoditas utama, jagung, ketela dan pisang sebagai komoditas tambahan untuk kebutuhan pribadi masyarakat sekitar. Tanah di Desa Blimbing juga dimanfaatkan oleh sebagian kecil warga di Dusun Prabon untuk membuat batu bata dari tanah liat.(tata guna lahan desa ditunjukan pada Peta 6.6)

Pada tabel tersebut dapat dilihat penggunaan lahan di Desa Blimbing, didominasi oleh perkebunan sebesar 204 hektar, tegalan 60 hektar, dan permukiman sebesar 46,5 hektar.

C.                Kepemilikan lahan

Status kepemilikan lahan di Desa Blimbing baik lahan untuk permukiman ataupun perkebunan adalah milik perorangan dan milik pemerintah. Dijelaskan pada tabel berikut :

Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa  status kepemilikan lahan di dominasi oleh perorangan.

D.           Permukiman

Kondisi permukiman di desa Blimbing dijelaskan menurut kondisi fisik rumah, pola permukiman dan status kepemilikan.

1. Kondisi fisik rumah

Kondisi fisik rumah di desa Blimbing dijelaskan melalui tabel berikut:

Kondisi fisik rumah tiap dusun ditunjukan pada tabel berikut:

Pada tabel tersebut dapat dilihat, sebagian besar rumah di Desa Blimbing memiliki kondisi fisik permanen sebesar 1644 rumah.

2. Pola permukiman

Pola permukiman di desa Blimbing merupakan jenis pola permukiman linear. Pola permukinan linear merupakan pola permukiman yang memanjang mengikuti jaringan jalan.

3. Status kepemilikan

Status kepemilikan rumah di Desa Blimbing dijelaskan pada tabel berikut :

Pada tabel tersebut dapat dilihat, masyarakat yang masih tinggal di rumah pribadi sebanyak 1543 rumah, sedangkan warga yang tinggal di rumah sewa atau kontrak sebanyak 112 rumah.

6.3.3    Terbangun

6.3.3.1 Karakteristik sarana

Kawasan terbangun yang terdapat di daerah Desa Blimbing terdiri dari sarana, prasarana, dan permukiman yang ada di dalamnya. Dalam karakteristik sarana terdapat sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana pemerintahan, sarana peribadatan, sarana olahraga, makam, sarana perdagangan dan jasa serta sarana industri. Sedangkan dalam karakteristik prasarana terdapat karakteristk jarigan jalan, karakteristik jaringan air, karakteristik jaringan drainase, karakteristik jaringan listrik, karakeristik jaringan sanitasi dan sampah, karakteristik komunikasi, karakteristik irigasi. Da dalam karakteristik permukiman dibahas juga pola permukiman penduduk di Desa Blimbing termasuk ke dalam pola permukiman yang bagaimana.

Karakteristik sarana pada Desa Blimbing memiliki sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana pemerintahan, sarana peribadatan, sarana olahraga, makam, sarana perdagangan dan jasa serta sarana industri, dengan rincian sebagai berikut.

Kawasan terbangun yang terdapat di daerah Desa Blimbing terdiri dari sarana, prasarana, dan permukiman yang ada di dalamnya. Dalam karakteristik sarana terdapat sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana pemerintahan, sarana peribadatan, sarana olahraga, makam, sarana perdagangan dan jasa serta sarana industri. Sedangkan dalam karakteristik prasarana terdapat karakteristk jarigan jalan, karakteristik jaringan air, karakteristik jaringan drainase, karakteristik jaringan listrik, karakeristik jaringan sanitasi dan sampah, karakteristik komunikasi, karakteristik irigasi. Da dalam karakteristik permukiman dibahas juga pola permukiman penduduk di Desa Blimbing termasuk ke dalam pola permukiman yang bagaimana.

Karakteristik sarana pada Desa Blimbing memiliki sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana pemerintahan, sarana peribadatan, sarana olahraga, makam, sarana perdagangan dan jasa serta sarana industri, dengan rincian sebagai berikut.

A.     Sarana Pendidikan

Sarana pendidikan yang terdapat di daerah Desa Blimbing tersebar di beberapa dusun dengan rincian sebagai berikut:

Jenis sarana pendidikan yang terdapat di desa Blimbing paling banyak terdapat di dusun Karangri dengan jumlah sarana pendidikan berupa sekolah dasar sebanyak dua unit dan dapat melayani 263 orang.Di dusun Blimbing terdapat satu unit Madrasah Ibtida’iyah dengan jumlah pengguna sebanyak 143 orang. Di dusun Karangri dan juga dusun Kedondong terdapat jenis sarana pendidikan berupa taman kanak-kanak yag melayani jumlah pengguna sebanyak 88 orang. Sedangkan di dusun Prabon terdapat Taman pendidikan Al-qur’an sebanyak satu unit dengan jumlah pengguna sebanyak 40-50 orang. Letak sarana pendidikan ditunjukan pada Peta 6.7

B.     Kesehatan

Sarana kesehatan yang terdapat di desa blimbing berupa puskesmas, posyandu, dan puskesdes.Sarana kesehatan ini tersebar di berbagai dusun yang ada di desa Blimbing.

Sarana kesehatan yang paling baik terdapat dusun karangri karena memiliki puskesmas dan dapat menangani hingga seluruh desa.Puskesmas yang terdapat di Desa Blimbing hanya terletak di dusun Karangri saja, sedangkan tujuh unit posyandu tersebar di dusun Blimbing, dusun Prabon, dan dusun Kedondong.Puskesdes terletak di dusun Kedondong. Letak sarana Kesehatan ditunjukan pada Peta 6.8

C.    Pemerintahan dan Pelayanan Umum

1. MCK umum

Terdapat 4unit  MCK Umum yang terletak di dusun Karangri sebanyak 2 unit dan di dusun Blimbing sebanyak 2 unit dengan kondisi MCK umum di dusun Blimbing baik dan sedangkan di dusun karangri kondisinya buruk dan perlu mendapatkan perbaikan.

2. Balai warga sebanyak 1 unit terletak di dusun Prabon dengan kondisi masih dalam perbaikan.

3. Balai Desa terletak di dusun kedondong dengan kondisi baik.

Letak sarana pemerintah dan pelayanan umum ditunjukan pada Peta 6.9.

D.    Sarana peribadatan

Sarana peribadatan di Desa Blimbing tersebar di beberapa dusun, dengan rincian dapat dilihat dalam tabel berikut ini.

Sarana peribadatan yang terdapat di Desa Blimbing merupakan sarana peribadatan berupa Masjid sebanyak tiga unitdan musholla sebanyak tujuh unit. Letak sarana peribadatan ditunjukan pada Peta 6.10

E.    Olahraga

Sarana olahraga dan RTH di Desa Blimbing dijelaskan melalui tabel 6.18 berikut :

Letak sarana olahraga ditunjukan pada Peta 6.11.

F.    Makam / Kuburan Umum

Setiap dusun di desa Blimbing yakni dususn prabon, dusun karangri dan dusun Blimbing mempunyai makam umum kecuali dusun kedondong. Letak sarana makam ditunjukan pada Peta 6.12.

G.     Perdagangan dan Jasa

1. Jasa

Jenis pelayanan jasa yang terdapat di desa Blimbing berupa jasa penjahit, bengkel, warnet / wartel, counter pulsa, foto copy, salon, persewaan, dan sablon. Usaha ini tersebar di berbagai dusun pada desa Blimbing. Di Desa Blimbing terdapat sarana jasa dengan rincian sebagai berikut,

Jenis pelayanan jasa yang memiliki jumlah paling rendah adalah jasa penyablonan yaitu dengan jumlah hanya satu usaha di desa Blimbing tersebut.Sektor jasa di dusun Blimbing sebagian besar  merupakan bengkel. Tersedianya bengkel dalam jumlah yang besar dikarenakan banyaknya warga yang memiliki kendaraan bermotor.

2. Perdagangan

Sektor  perdagangan yang terdapat di Desa Blimbing berupa pasar, toko dan warung makan. Usaha perdagangan ini tersebar di berbagai dusun pada desa Blimbing.Di Desa Blimbing terdapat sarana perdagangan dengan rincian sebagai berikut.

Jenis pelayanan perdagangan berupa pasar tidak terdapat di desa Blimbing, perdagangan di Desa blimbing yang memiliki jumlah paling banyak atau mendominasi jenis pelayanan perdagangan adalah toko kelontong dengan jumlah 42 toko yang tersebar di berbagai dusun di desa Blimbing. Kemudian jumlah terbanyak kedua yaitu jenis perdagangan berupa warung dengan jumlah 36 buah. Letak sarana perdagangan dan jasa ditunjukan pada Peta 6.13.7

H.    Industri

Sektor industri yang terdapat di desa Blimbing antara lain berupa industry meubel dan sepatu. Usaha tersebut terdapat di dusun Karangri dengan jumlahnya masing-masing satu unit. Dengan rincian sebagai berikut:

Jenis industri yang berupa industri meubel dan sepatu ini dapat menjadi potensi untuk pengembangan desa Blimbing.

6.3.3.2 Karakteristik prasarana

A.    Karakteristik Jaringan Jalan

Kondisi jaringan jalan di Desa Blimbing berbeda-beda tiap dusun(kondisi jaringan jalan desa ditunjukan pada Peta 6.8). Kondisi jaringan jalan di Desa Blimbing dijelaskan dalam tabel berikut:

B.    Karakteristik Jaringan Air

Sumber air di dusun Blimbing bersumber air dari sumur bor dengan teknik pengambilan dengan cara dipompa. Sedangkan di dusun Kedondong juga menggunakan sumur bor namun saat dipompa terkadang keluar pasir. Secara umum kualitas air di desa Blimbing baik meskipun  tidak memiliki organisasi pengelolaan air seperti PDAM.

Namun di desa Blimbing ini, saat musim kemarau air menjadi keruh meski hanya sementara. Air yang keruh tersebut kemudian akan menjadi jernih dan kualitas air setelah musim kemarau menjadi baik.

C.     Karakteristik Jaringan Drainase

Karakteristik jaringan drainase di Desa Blimbing di jelaskan melalui tabel 6.24 dan Peta 6.15

D.    Karakteristik Jaringan Listrik

Di Desa Blimbing listrik sudah mulai masuk dan berkembang di desa sejak tahun 1986 hingga sekarang. Saat ini jaringan listik sudah mulai merata masuk di dusun di Desa Blimbing  namun ada beberapa rumah di masing-masing dusun yang belum mendapat jaringan langsung dari PLN atau listrik masih menumpang di rumah tetangga. Jumlah KK yang teraliri listrik sebesar 1.633 rumah. (Jaringan listrik ditinjukan pada Peta 6.16).

E.    Karakteristik Jaringan Sanitasi dan Sampah

Di Desa Blimbing hanya dusun Blimbing yang memiliki MCK umum jenis septic tank komunal, sedangkan dusu-dusun yang lainnya tidak memiliki MCK umum. Namun para warga dusun Blimbing  sebagia besar masih menggunakan sistem sanitasi pribadi di masing-masing rumah.

Di dusun Kedondong, di masing-masing rumah terdapat MCK pribadi dengan jenis septic tank komunal karena digunakan oleh sedikitnya dua rumah untuk satu septic tank.Di dusun Kadondong dari 105 KK kurang lebih 3-4 KK tidak memiliki WC (ikut MCK umum di dusun blimbing dan ikut tetangga) sedangkan lainnya memiliki MCK pribadi.Sedangkan di Dusun Prabon tidak memiliki MCK umum, namun di masing-masing rumah terdapat MCK pribadi dengan jenis septic tank pribadi.

F.     Karakteristik Jaringan Komunikasi dan Transportasi

Jaringan komunikasi / telepon di desa Blimbing tidak semuanya teraliri jaringan telekomunikasi.Jaringan telekomunikasi hanya terletak di jalan-jalan utama dusun.Namun jaringan telekomunikasi tidak digunakan sebagaimana mestinya, banyak tiang listrik yang dialih fungsikan sebagai tiang penyangga lampu penerangan jalan.

Untuk jaringan transportasi, pada tahun 1987 terdapat angkutan umum yang melayani transportasi dari kecamatan menuju ke Mojokerto, namun saat ini angkutan umum di desa blimbing tidak lagi ada dikarenakan kurangnya sosialisasi Pemerintah setempat kepada warga desa. Penyebab lain kurang termanfaatkannya angkutan umum di desa Blimbing adalah semakin banyaknya jumlah kendaraan pribadi yang dimiliki para warga, ditambah cara untuk mendapatkannya yang semakin mudah.

G.    Karakteristik Jaringan Irigasi

Sistem jaringan irigasi di Desa Blimbing ini menggunakan pompa yang berasal dari sumur bor yang diletakkan di pinggir- pinggir ladang/ kebun yang jarak antara pompa adalah ±60 meter. Pengairan ladang / kebun dilakukan setiap satu minggu sekali.Satu pompa/sumur bor dalam satu ladang/kebun digunakan untuk mengairi ladang/kebun milik 6 orang. Sistem irigasi di Desa Blimbing ini didasarkan atas inisiatif dan dana dari petani dari masing-masing ladang/kebun. Jaringan irigasi ditunjukan pada Peta 6.17

6.3.3.3 Karakteristik Perumahan dan pola permukiman 

Desa Blimbing terdiri dari empat dusun yang memiliki karakteristik perumahan sebagai  berikut :

Pada tabel tersebut dapat dilihat, sebagian besar rumah di Desa Blimbing memiliki kondisi fisik permanen sebesar 1644 rumah. (Karakteristik permukiman desa ditunjukan pada Peta 6.18)

Rumah-rumah permanen banyak terdapat di sepanjang jalan utama dan jalan-jalan di sekitar jalan utama atau yang perkerasan jalannya berupa aspal dan paving, sedangkan untuk rumah sederhana banyak dijumpai di dusun-dusun yang perkerasan jalannya masih berupa makadam dan tanah.

Pola permukiman di desa Blimbing ini merupakan pola desa yang linier atau memanjang. Hal ini dikarenakan pertumbuhan permukimannya yang mengikuti atau terdapat di sepanjang jalan. Rumah-rumah warga didirikan di pinggir-pinggir jalan yang ada di desa Blimbing. (Pola permukiman desa ditunjukan pada Peta 6.19)

6.3.4 Tak Terbangun

Tak terbangun adalah lahan yang tidak dimanfaatkan untuk pendirian bangunan. Di Desa Blimbing lahan tak terbangun berupa, perkebunan, sawah, tegalan dan ruang terbuka hijau lainnya. Kondisi lahan tak terbangun di Desa Blimbing masih sangat luas.

Menurut Kecamatan Dalam Angka Kecamatan Kesamben Tahun 2010, total luas lahan tak terbangun di Desa Blimbing pada tahun 2009 sebesar 212,1 Ha.

6.3.4.1  Perkebunan

Sektor pertanian merupakan sektor yang mendominasi guna lahan yang ada di Desa Blimbing. Produk andalan hasil perkebunan yang ada di Desa blimbing adalah tebu. Pisang dan ketela sebagai produk penunjang. Kondisi iklim yang mendukung membuat tanaman perkebunan tumbuh cukup subur.

Jenis perkebunan yang ada di Desa Blimbing adalah perkebunan tadah hujan.

1.      Perkebunan Tadah Hujan

           Perkebunan tadah hujan merupakan perkebunan yang menggunakan air hujan sebagai satu-satunya sumber pengairan. Perkebunan di Desa blimbing seluruhnya merupakan perkebunan tadah hujan, hal ini dikarenakana kondisi topografi Desa blimbing secara garis besar yaitu berupa perbukitan/pegunungan yang terletak di ketinggian  60 m di atas permukaan laut (dpl).  Luas total Desa blimbing adalah 319,5 Ha, dari luasan tersebut didominasi oleh daerah dataran rendah. Selain itu ditunjang pula dengan jenis tanah yang sangat cocok untuk perkebunan.

Untuk memanen hasil perkebunan dilakukan setiap tahunya sesuai denganmusim panen tanaman masing-masing.

6.3.5    Karakteristik Sosial

6.3.5.1 Kependudukan

6.3.5.2 Struktur Penduduk

Struktur penduduk ditentukan berdasarkan jenis kelamin, kelompok umur, agama, tingkat pendidikan dan mata pencaharian.

A.  Komposisi penduduk menurut jenis kelamin.

Secara umum jumlah penduduk laki-laki di desa Blimbing lebih sedikit dibanding dengan jumlah perempuan. Yang dimana diketahui penduduk laki-laki sebanyak 2323 jiwa dan untuk penduduk perempuan sebanyak 2396 jiwa. (Monografi Desa 2010)

Dari diagram diatas diketahui perbandingan jumlah penduduk Desa Blimbing menurut jenis kelamin hampir sama.

B.  Komposisi penduduk menurut kelompok umur.

Komposisi penduduk desa Blimbing dapat digolongkan menurut umur. Komposisi penduduk menurut umur ditunjukan pada tabel 6.28 sebagai berikut.

C.  Komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan.

Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan terbesar terletak pada penduduk tamat SD/sederajat sedangkan yang terendah terletak pada penduduk tamat universitas atau perguruan tinggi.  Untuk meliahat jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada table berikut:

Dari diagram diatas diketahui perbandingan jumlah penduduk dilihat dari segi pendidikan. Diketahui juga banyak penduduk desa yang tidak tamat SD.

D.  Komposisi penduduk menurut mata pencaharian.

Sebagian besar penduduk desa blimbing kecamatan kesamben mempunyai mata pencaharian sebagai buruh tani. Hal tersebut dapat dilihat pada diagram berikut :

Sesuai dengan diagram diatas maka dapat diketahui sebagian besar penduduk desa blimbing bekerja sebagai buruh tani.

E.  Komposisi penduduk menurut agama

Jumlah penduduk menurut agama di desa blimbing dapat dilihat pada tabel :

Dari diagram dapat diketahui hampir seluruh warga Desa Blimbing menganut agama Islam.

6.3.5.3 Sosial Budaya

A.  Sejarah Desa

Sejarah desa merupakan salah satu informasi yang berisikan perkembangan desa yang terkait dengan masalah spasial mulai dari proses penemuan dan pemberian nama desa hingga saat ini. Sejarah desa didapatkan dengan dua metode survey, yaitu survey primer melalui PRA dan survey sekunder berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Blimbing, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang Tahun 2010

Sejarah Desa Blimbing berdasarkan RPJMD Tahun 2010, Desa Blimbing memiliki keterkaitan nama dengan desa-desa lainnya, seperti Jombok dan Wuluh yang ada di di Kecamatan Kesamben, serta Ngingasrembyong yang berada di Kabupaten Mojokerto. Penamaan desa tersebut didasari pada kondisi wilayah saat itu yang berupa hutan dan rawa-rawa.Pada saat delakukan babat desa, wilayah Desa Blimbing terbentuk dari wilayah kelompok-kelompok. Adapun wilayah-wilayah tersebut terdiri dari:

Pemberian nama tersebut disesuiakan dengan keadaan hutan dan rawa-rawa yang terdapat dan dijumpai dalam kelompok wilayah tersebut saat melakukan pembabatan, antara lain:

1. Nama wilayah Blimbing karena saat melakukan babat hutan banyak ditemukan pohon Blimbing sehingga wilayah tersebut diberi nama Blimbing yang dipimpin oleh Kepala Desa Zakaria.

2. Nama wilayah Kedondong karena pada waktu melaksanakan babat hutan diteukan banyak pohon kedondong, sehingga pemberiaan nama Kedondong untuk desa tersebut. Desa Kedondong dipimpin oleh Kepala Desa Kasmin

3. Saat pembabatan wilayah Karangri ditemukan banyak pohon berduri, seperti pohon klampis, cangkring, dan bamboo. Kepala Desa Karangri pertama adalah Sutiman P Sutiman.

4. Prabon merupakan satu-satunya nama wilayah di Desa Blimbing yang tidak berasal dari nama kondisi hutan dan rawa-rawa yang ada. Pemberian nama Prabon disebabkan karena tempat tersebut pernah menjadi tempat persinggahan para prabu pada zaman Mojopahit. Wilayah ini dilintasi jalur Sungai Brantas yang dahulu daerah tersebut menjadi pelabuna perahu yang singgah sehingga wilayah tersebut dinamakan Karang Prabon. Kepala Desa pertama adalah P. Satri

Terdapat peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di desa Blimbing yang berhubungan dengan perkembangan desa berdasarkan kepemimpinan dan administrasi, sebagai berikut:

  1. Status desa Blimbing yang pada awalnya masih merupakan wilayah kelompok yang terdiri dari emapat kelompok wilayah;
  2. Sekitar tahun 1912 desa Blimbing yang terdiri dari wilayah kelompok tersebut diadakan penggabungan wilayah Desa yang kemudian diberi nama Desa Blimbin;
  3. Bersaam dengan terjadinya penggabungan maka disertai mengadakan Pemilihan Kepala Desa untuk wilayah Desa, dari keempat wilayah tersebut dinamakan dukuhan yang dipimpin oleh Kamituo;
  4. Adanya pergantian nama dukuh menjadi nama dusun hingga saat ini dimana terdapat beberapa nama yang telah menjabat menjadi Kepala Desa Blimbing yang bertugas mengatur tiap dusunnya :

Berdasarkan hasil survey primer, kegiatan PRA melalui kegiatan bagan kecenderungan diketahui latar belakang atau peristiwa-peristiwa di masa lalu, mengkaji perubahan -perubahan dan masalah-masalah yang terjadi, dan mengkaji hubungan sebab akibat antar kejadian. Kejadian-kejadian tersebut, seperti: tata guna lahan, jalan, transportasi, air bersih, listrik, permukiman, sarana, lembaga desa, sosial, budaya, dan irigasi. Berdasarkan hasil PRA baik secara informal dan formal dengan menggunakan interval 10 tahunan, di dapatkan informasi dan data bahwa Dusun Blimbing merupakan pusat Desa Blimbing dan Dusun Prabon merupakan wilayah yang dengan kualitas infrastruktur rendah. Informasi lainnya sebagai berikut:

A.    Kondisi Perilaku Masyarakat Desa

Kebersamaan  Desa Blimbing warga sangat tinggi terbukti dengan diadakanya rembuk desa satu bulan sekali, pengajian rutin di semua dusun, dan lain –lain. Setiap ada permasalahan warga cepat tanggap untuk menyelesaikan permasalahan tersebut tergantung dimana wilayah tersebut berada, di wilayah dusun maupun desa.

Kondisi perilaku masyarakat di Desa Blimbing sangat baik untuk dijadikan panutan, dikarenakan masing-masing warganya mengerti tentang toleransi terhadap satu sama lain. Di Desa Blimbing mudah untuk menemukan warga yang toleransi dan ramah terhadap sesama. Sangat jarang terjadi ketimpangan sosial misalnya perkelahian ataupun tidak rukun antarwarga desa. Di Desa Blimbing ini juga terdapat konflik yang berkaitan dengan pembukaan usaha atau mata pencaharian sampingan seperti toko kelontong maupun perdagangan dan jasa yang lainnya dikarenakan banyak saingan yang mengikuti keberhasilan seseorang jika telah berhasil membuka suatu usaha. Tetapi konflik tersebut tidak sampai memengaruhi kerukunan antarwarga desa, biasanya hanya dijadikan bahan pembicaraan saja.

B.      Kegiatan budaya

Kegiatan budaya yang terdapat di Desa Blimbing ini yaitu pengajian setiap hari selasa dan jum’at bagi yang perempuan dan hari kamis bagi warga laki-laki. Ada juga kebudayaan dengan memainkan alat-alat musik tradisional salah satunya yaitu karawitan dengan menggunakan alat musik yang terbuat dari kayu dan cara memainkannya yaitu dengan cara dipukul menggunakan alat pemukul yang terbuat dari kayu.

6.3.6   Karakteristik Ekonomi

6.3.6.1  Kajian Mata Pencaharian

Karakteristik sosial ekonomi Desa Blimbing Kecamatan Kesamben meliputi kajianmata pencaharaian dan kajian usaha tani.

A.    Kajian mata pencaharian

Desa Blimbing sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, dimana petani di Desa Blimbing mengelolah sawahnya dengan sistem irigasi. Lahan di Desa Blimbing yang paling luas adalah lahan pertanian. Di Desa Blimbing terdapat beberapa macam mata pencaharian antara lain pertanian, industri kecil, perdagangan, serta jasa.

B.    Diagram Aktivitas

Diagram aktivitas merupakan salah satu alat yang digunakan dalam PRA Desa Blimbing untuk mengkaji mengenai kegiatan harian yang dilakukan oleh keluarga yang profesinya ada di Desa Blimbing. Diagram aktivitas ini digunakan untuk visualisasi kegiatan harian, sehingga memudahkan dalam meneliti dinamika harian setiap keluarga masyarakat di Desa Blimbing. Setiap diagram aktivitas mewakili satu profesi pada masyarakat yang mempunyai ciri khas dan aktivitas yang berbeda dengan keluarga lainnya dengan profesi yang berbeda.

1. Diagram aktivitas petani dan pedagang

Pada keluarga petani dan pedagang di Desa Blimbing diagram aktivitasnya mempunyai gambaran yang sama, yaitu pada jam 04.00 ibu bangun dan menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga, kemudian jam 04.00 ayah bangun untuk sholat subuh dan bersiap-siap pergi kerja. Anak bangun jam 05.30 untuk sholat subuh dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Setelah selesai sarapan, jam 06.30 ayah berangkat bekerja dan anak pergi ke sekolah, sedangkan ibu juga ikut bekerja, tetapi ada pula ibu yang hanya mengurusi rumah tangga dirumah. Jam 11.00 ayah pulang bekerja untuk istirahat, ibu juga pulang untuk istirahat jika ikut bekerja, kemudian ibu menyiapkan makanan untuk makan siang. Anak pulang sekolah pada jam 10.30, langsung makan siang setelah itu bermain sampai jam 12.00. Pada jam 12.00 ayah kembali bekerja sampai pada jam 15.30 untuk kembali ke rumah. Sedangkan anak, setelah selesai bermain istirahat sampai jam 16.30. Setelah sholat magrib anggota keluarga makan malam yang sebelumnya sudah disiapkan oleh ibu. Setelah makan malam anak belajar sampai jam 21, lalu tidur. Sedangkan bapak dan ibu hanya bersantai sambil menonton TV. Jam 21.30 ibu tidur, sedangkan bapak pada umumnya tidur jam 22.00.

2. Diagram aktivitas petani dan PNS

Pada keluarga petani dan PNS di Desa Blimbing diagram aktivitasnya mempunyai gambaran, yaitu pada jam 04.30 Ayah dan  ibu  bangun untuk solah subuh dan ibu menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga, kemudian jam 05.00 anak bangun untuk sholat subuh dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Jam 06.00 seluruh keluarga sarapan. Setelah selesai sarapan, jam 06.30 Ibu berangkat bekerja sebagai pegawai kelurahan dan anak pergi ke sekolah, sedangkan Ayah juga berangkat bekerja sebagai petani tebu .tetapi ada pula ibu yang hanya mengurusi rumah tangga dirumah. Jam 11.00 ayah pulang bekerja untuk istirahat, Anak pulang sekolah pada jam 12.30, langsung makan siang setelah itu bermain sampai jam 14.00. Pada jam 12.00 ayah kembali bekerja sampai pada jam 15.30 untuk kembali ke rumah. Ibu pulang bekerja jam 15.00, setelah itu ibu istirahat sebentar dan jam 16.30 menyiapakan makan malam. Sedangkan anak, setelah selesai bermain istirahat sampai jam 16.30. Setelah itu berangkat mengaji sampai jam 17.30. jam 18.00 semua keluarga sholat magrib dan  makan malam yang sebelumnya sudah disiapkan oleh ibu. Setelah makan malam anak belajar sampai jam 20.30, lalu tidur. Sedangkan bapak dan ibu hanya bersantai sambil menonton TV. Jam 21.30 ibu tidur, sedangkan bapak pada umumnya tidur jam 22.00.

3. Diagram peternak

Pada aktivitas keluarga peternak, hampir sama dengan keluarga petani dan pedagang di Desa Blimbing pada umumnya yaitu pada jam 05.00 pagi ibu bangun dan menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga, kemudian jam 05.00 ayah bangun untuk sholat subuh dan bersiap untuk pergi bekerja mencari rumput untuk makanan ternak. Anak bangun jam 05.30 untuk sholat subuh dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Setelah selesai sarapan, jam 06.30 ayah berangkat bekerja mencari rumput untuk pakan ternak dan merawat ternak-ternaknya dan anak pergi ke sekolah, sedangkan ibu juga ikut bekerja, tetapi ada pula ibu yang hanya sebagai ibu rumah tangga. Jam 12.00 ayah pulang bekerja untuk istirahat, ibu juga pulang untuk istirahat jika ikut bekerja, kemudian ibu menyiapkan makanan untuk makan siang. Anak pulang sekolah pada jam 11.30, langsung makan siang setelah itu bermain sampai jam 13.00. Pada jam 12.00 sampai pada jam 15.30 ayah istirahat siang. Sedangkan anak, setelah selesai bermain istirahat sampai jam 16.30. pada jam 16.00 ayah, berangkat lagi untuk memberi makan dan memeriksa ternaknya. Setelah sholat magrib anggota keluarga makan malam yang sebelumnya sudah disiapkan oleh ibu. Setelah makan malam anak belajar sampai jam 21.00, lalu tidur. Sedangkan bapak dan ibu hanya bersantai sambil menonton TV. Jam 21.00 ibu tidur, sedangkan bapak pada umumnya tidur jam 22.00.

6.3.6.2  Kajian Usaha tani

Usaha tani merupakan usaha untuk mengkoordinasikan faktor-faktor produksi pertanian secara efektif dan efisien untuk mendapatkan hasil atau keuntungan yang maksimal. Di Desa Blimbing, Kajian usaha tani meliputi:

a. Pola usaha tani di Desa Blimbing yaitu kebun dengan irigasi atau pengairan teknisdan tadah hujan.

b. Tipe usaha tani di Desa Blimbing menunjukkan klasifikasi tanaman yang didasarkan pada macam dan cara penyusunan tanaman yang diusahakan. Tipe usahatani di Desa Blimbing berupa tipe usaha tani perkebunan tebu.

c. Struktur usaha tani di Desa Blimbing Menunjukan bagaimana suatu komoditi diusahakan. Cara pengusahaan di Desa Blimbing dilakukan secara khusus atau satu komoditas utama saja.

d. Bentuk Usaha tani di Desa Blimbing adalah perorangan. Artinya, faktor produksi dimiliki atau dikuasai oleh satu orang saja, maka hasilnya akan ditentukan oleh seorang saja.

A.    Hasil Produksi per Sektor

Sektor pertanian merupakan sektor utama yang menunjang perekonomian Desa Blimbing. Pertanian yang ada di Desa Blimbing terdiri dari pertanian kebun dan ladang. Tanaman utama di Desa Blimbing yaitu tebu dan jagung. Pertanian tebu merupakan komoditas utama di Desa Blimbing. Hal tersebut didukung oleh kondisi lahan yang sesuai dengan tanaman tebu. Selain Pertanian, di Desa Blimbing juga terdapat sektor peternakan yaitu ternak ayam buras dan ternak sapi.

Pada tabel tersebut dapat dilihat, dilihat dari jumlah produksi, komoditi utama sektor pertanian yaitu pertanian tebu. Sedangkan untuk sektor peternakan yaitu ternak ayam buras.

1.      Pertanian

Pertanian merupakan sektor utama dalam meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Blimbing.Pertanian di Desa Blimbing yaitu ladang dan kebun dengan komoditas Tebu dan Jagung.

a.      Tebu

Tanaman tebu merupakan tanaman komoditas utama di Desa Blimbing. Luas lahan perkebunan tebu di Desa Blimbing yaitu 90 hektar dengan hasil produksi tebu Desa Blimbing tahun 2009 sebesar 87 Ton sehingga dapat mengangkat perekonomian masyarakat Desa Blimbing. Sistem irigasi pertanian tebu menggunakan sistem irigasi teknis. Pada musim penghujan pengairan kebun tebu berasal dari sungai yang terdapat di sekitar Desa Blimbing, yaitu Sungai Brantas dan Sungai Watudakon, namun pada musim kemarau saat ini petani menggunakan sumur bor untuk irigasi. Waktu panen tanaman tebu dilakukan setahun sekali, biasanya dilakukan pada bulan agustus hingga november.

Hasil maksimum pertanian tebu untuk lahan dengan luas 1 hektar adalah 1000 kwintal. Dengan harga jual 45.000/ Kwintal. Sehingga dalam satu kali masa panen, petani tebu mendapat penghasilan sebesar  45 Juta. Hasil tersebut belum dipotong biaya produksi, dan biaya jasa untuk perawatan dan pemanenan tebu. Hasil produksi tebu ini dapat mengalami penyusutan. Penyusutan hasil produksi ini bisa mencapai 400 kwintal/ hektar. Penyusutan ini biasanya diakibatkan oleh gagal panen yang disebabkan karena serangan hama, tebang tebu terakhir, serta musim kemarau yang panjang. Faktor yang paling berpengaruh adalah ketersediaan air pada musim kemarau. Pada musim kemarau petani tebu di Desa Blimbing sering mengalami kesulitan air, sehingga petani menggunakan sumur bor atau pompa untuk pengairan. Hal ini akan berdampak besar terhadap penghasilan yang diperoleh petani tebu.

b.      Jagung 

Selain tanaman tebu, pertanian di Desa Blimbing juga terdapat ladang jagung. Luas ladang jagung di Desa Blimbing yaitu 60 hektar dengan hasil produksi jagung di Desa Blimbing sebesar 77 ton pada tahun 2009. Hasil maksimum pertanian jagung untuk lahan dengan luas 1 hektar adalah 6-7 ton per hektar.

Sistem irigasi tanaman jagung menggunakan sistem irigasi teknis. Pertanian jagung memebutuhkan pengairan yang lebih banyak dari pada tanaman tebu. Permasalahan yang dialami pertania jagung, hampir sama dengan pertanian tebu. Permasalahan air menjadi salah satu kendala dalam proses irigasi tanaman jagung, sehingga petani jagung harus menggunakan sumur bor atau pompa untuk pengairan dan hal ini akan mengurangi pengahsilan yang diperoleh petani jagung.

Pada tabel tersebut dapat dilihat, berdasarkan hasil produksi per tahun tanaman tebu merupakan tanaman dengan jumlah produksi paling besar yaitu 87 ton.

2.      Peternakan

Peternakan juga merupakan salah satu sektor yang ada di Desa Blimbing.Peternakan yang ada di Desa Blimbing yaitu peternakan sapi dan peternakan ayam buras.

a.      Peternakan Sapi

Peternakan sapi yang ada di desa Blimbing dengan jumlah sapi sebanyak 57 ekor.Modal awal yang digunakan untuk membeli seekor sapi sekitar 6 juta. Sebagian besar sapi yang yang sudah dewasa akan dijual ke tengkulak sapi. Untuk proses perawatan biasanya peternak membeli rumput dengan harga dua puluh ribu per hari. Kotoran dari sapi dibakar untuk mencegah tumbuhnya nyamuk.Peternak hanya bekerja merawat sapi, tidak memiliki pekerjaan sampingan. Peternak juga tidak pernah menggunakan vaksin atau obat-obatan lain. Hal ini dapat menimbulkan masalah, karena apabila ada ternak sapi yang terkena penyakit akan mengurangi nilai jual, dan akan menyebarkan penyakit ke ternak lainnya.

b.      Peternakan Ayam Buras

Peternakan ayam buras di desa blimbing mempunyai jumlah sebanyak 2001 ekor. Proses perawatannya peternak membeli makanan ayam sebesar lima belas ribu per hari. Untuk proses penjualan, peternak menjual ke tengkulak ayam. Untuk kotoran ayam sendiri sama seperti kotoran sapi, dibakar. Ayam-ayam yang ada juga tidak di vaksin. Jadi proses pertumbuhannya secara alami. Peternak ayam juga tidak memiliki usaha sampingan selain beternak ayam. Penjualan ayam ini biasa dilakukan ketika ayam berusia kurang lebih satu tahun.

Pada tabel tersebut, dapat dilihat pada sektor peternakan. Ternak terbanyak yaitu ternak ayam buras dengan jumlah 2001 ekor. Peternakan ayam buras terletak di Dusun Kedondong.

C.    Jumlah Pendapatan dan Pengeluaran per Sektor

            Pada subbab iniakan dibahas mengenai pengeluaran dan pemasukan dari masing-masing sektor yang menjadi peunjang perekonomian di Desa Blimbing.

1.      Pertanian

a.      Tebu

Sebagian besar petani di Desa Blimbing merupakan petani tebu.Lahan pertanian tebu yang ada di Desa Blimbing yaitu sebesar 90 hektar. Berikut ini akan dijelaskan data pemasukan dan pengeluaran pertanian tebu dengan asumsi lahan 1 hektar:

Pada tabel tersebut dapat dilihat, pendapatan bersih petani tebu sebesar Rp. 14.900.000. Jumlah tersebut adalah pendapatan bersih setelah dipotong biaya produksi.

b.      Jagung

Selain komoditas tebu, terdapat komditas tanaman jagung.Lahan pertanian jagung yang ada di Desa Blimbing yaitu sebesar 60 hektar. Berikut ini akan dijelaskan data pemasukan dan pengeluaran pertanian jagung dengan asumsi lahan 1 hektar.

Pada tabel tersebut dapat dilihat, pendapatan bersih petani jagung sebesar Rp. 10.380.000 Jumlah tersebut adalah pendapatan bersih setelah dipotong biaya produksi.

2.      Peternakan

a.      Peternakan Sapi

Peternakan sapi yang ada di desa Blimbing dengan jumlah sapi sebanyak 57 ekor. Berikut akan dijelaskan data pemasukan dan pengeluaran peternakan sapi, dengan asusmsi satu ekor sapi.

Pada tabel tersebut, biaya perawatan untuk ternak sapi bersifat fluktuatif. Hal ini dikarenakan tergantung dari kebutuhan peternak untuk menjual ternaknya.

b.      Peternakan Ayam Buras

Peternakan ayam buras yang ada di Desa Blimbing sebanyak 2001 ekor. Berikut akan dijelaskan data pemasukan dan pengeluaran peternakan ayam buras dengan asumsi ternak sebanyak 100 ekor ayam buras.

Pada tabel tersebut dapat dilihat pendapatan bersih peternak ayam buras sebesar Rp. 1.000.000.Hasil  tersebut adalah pendapatan bersih, setelah dikurangi biaya produksi.

3.      Perdagangan

Untuk sektor perdagangan yang ada di Desa Blimbing, menggunakan sampel toko kelontong. Berikut akan dijelaskan data pemasukan dan pengeluaran peternakan sapi.

Pada tabel tersebut, dapat dilihat pendapatan bersih dari sektor perdagangan untuk satu toko kelontong yaitu Rp. 6.000.000, Hasil tersebut adalah pendapatan bersih setelah dipotong biaya produksi.

4.      Industri

Industri yang ada di Desa Blimbing yaitu industri meubel dan sablon. Untuk sektor industri, akan digunakan sampel industri sablon untuk menjelaskan data pemasukan dan pengeluaran sektor industri.

Pada tabel tersebut, dapat dilihat pendapatan bersih dari sektor industri untuk satu jenis usaha sablon  yaitu Rp. 6.960.000, Hasil tersebut adalah pendapatan bersih setelah dipotong biaya produksi.

D.    Sketsa Kebun

Sketsa kebun menunjukan pola tanam dan jenis tanaman yang ada pada suatu lahan.Berdasarkan hasil survey, diketahui pola tanam yang digunakan di Desa Blimbing adalah khusus atau satu jenis tanaman saja. Gambaran pola tanam sebagian besar petani Desa Blimbing dapat dilihat pada gambar berikut:

Pada gambar dapat dilihat, lahan hanya ditanami oleh satu jenis tanaman saja yaitu tebu atau jagung saja. Pada tanaman tebu, jarak antar tanaman yaitu 0,5 meter, sedangkan jarak untuk tanaman jagung yaitu 0,7 meter. Disamping lahan, terdapat jaringan irigasi untuk pengairan tanaman,Apabila dilakukan pola tu dengan lebar 0,5-1,0 meter. Berdasarkan sketsa tersebut, dapat diketahui pola tanaman sebagian besar petani di Desa Blimbing adalah khusus, karena lahan hanya ditanami satu jenis tanaman saja.

Beberapa petani di Dusun Blimbing, melakukan tumpangsari pada lahan pertanian tebu dan jagung mereka. Apabila akan dilakukan tumpangsari, maka tanaman yang ditanam harus memiliki karakteristik seperti tanaman tebu atau jagung. Karakteristik tanaman tebu yaitu tidak membutuhkan air terlalu banyak. Tanaman yang sesuai untuk tumpangsari, misalnya ketela atau pisang.

Salah satu tanaman dengan tumpangsari terdapat di Dusun Blimbing. Di beberapa lahan tebu ditanami ketela pohon di samping lahan, dan di lahan jagung ditanami pohon pisang. Dengan adanya pola tanaman seperti ini, diharapkan petani tebu dapat memeperoleh hasil tambahan dari tanaman tumpangsarinya.

C.    Kalender musim

Musim merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi berbagai kegiatan masyarakat Desa Blimbing pada umumnya. Dalam hal ini, umumnya musim berpengaruh langsung pada kegiatan pertanian, dari proses pengolahan lahan hingga proses panen hasil.

Salah satu alat untuk mempermudah melihat suatu kecenderungan atau pola kegiatan yang dalam kurun waktu tertentu adalah dengan cara membuat kalender musim. Kalnender musim merupakan salah satu teknik PRA yang digunakan untuk mengetahui keadaan alam (musim) dan keberlangsungan sektor pertanian (musim tanam, perawatan, dan panen). Berikut hasil kalender musim Desa Blimbing.

1.      Pertanian.

a.      Tebu

Tebu merupakan komoditas sektor pertanian utama di Desa Blimbing.Panen tebu dilakukan setahun sekali, biasa dilakukan pada bulan Juni hingga bulan Agustus.

b.      Jagung

Jagung merupakan tanaman yang membutuhkan banyak pengairan.Panen jagung ini biasa dilakukan setahun tiga kali dan penanaman tanaman jagung untuk sistem irigasi tadah hujan, seperti lahan di Desa Blimbing, ditanam di akhir musim hujan.

2.      Peternakan

a.      Sapi

Peternakan sapi yang ada di desa Blimbing dengan jumlah sapi sebanyak 57 ekor. Penualan sapi paling ramai biasanya dilakukan pada bulan November.

b.      Ayam buras

Peternakan ayam buras di desa blimbing mempunyai jumlah sebanyak 2001 ekor.Penjualan ayam ini biasa dilakukan ketika ayam berusia 2 bulan.

Pada kalender musim, dapat diketahui keadaan alam (musim) dan keberlangsungan sektor pertanian (musim tanam, perawatan, dan panen) pada masing-masing komoditas. Pada kalender musim, dapat diketahui musim penghujan berlangsung pada bulan Oktober hingga Maret, sedangkan untuk musim kemarau berlangsung pada bulan April hingga September. Untuk komoditas tebu, panen dilakukan setahun sekali. Pada umumnya panen dilakukan pada bulan Juni hingga Agustus. Proses penanaman tebu, dimulai pada bulan Oktober, kemudian dilanjutkan proses perawatan sperti penyiangan, pemupukan dan pengairan pada bulan Desember hingga bulan Mei. Untuk tanaman Jagung, panen dilakukan setahun tiga kali. Panen biasanya dilakukan ketika jagung berumur 90 hingga 100 hari. Untuk sektor peternakan sapi, bersifat fluktuatif. Penjualan biasanya ramai dilakukan pada bulan November, sedangkan untuk ternak ayam buras penjualan ayam dilakukan ketika ayam berusia 1 tahun.

D.    Transek desa

Transek Desa merupakan penggambaran bentuk samping desa, dalam transek desa digambarkan adanya topografi desa beserta komponennya. Dalam hal ini Desa Blimbing digambarkan dalam transek dari arah utara ke selatan, ujung utara merupakan daerah sungai brantas yang diikuti dengan permukiman di sebelah tanggul sedangkan sebelah selatan merupakan daerah sungai irigasi dengan perumahan disebelahnya dan di antara sebelah utara dan selatan tepatnya bagian tengah adalah kebun atau lading tebu. Transek juga menggambarkan ketinggian dataran (kontur) Desa Blimbing, yang berfungsi sebagai penempatan kesesuaian tata guna lahan, serta rancangan solusi dan analisis untuk masalah drainase ataupun irigasi untuk pertaniannya. Komponen yang terdapat di di Desa Blimbing antaralain kebun, permukiman, saluran irigasi, dan sungai.

E.    Bagan peringkat

Teknik pembuatan bagan peringkat atau teknik analisa pilihan atau teknik matriks ranking merupakan bagian dari PRA untuk mengkaji sejumlah topik dengan memberi nilai pada masing-masing aspek kajian, berdasarkan sejumlah kriteria pembanding. Kriteria pembanding ini merupakan data yang diperoleh dari masyarakat Desa Blimbing dan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan kegiatan-kegiatan yang telah ada, terutama untuk potensi yang teradapat di Desa Blimbing. Bagan peringkat ini meliputi dua matriks peringkat, yaitu:

1.      Peringkat mata pencaharian desa

Matriks mata pencaharian utama ini berguna untuk mengetahui mata pencaharian mayoritas yang dilakukan oleh masyarakat Desa Blimbing. Dalam penentuan bagan peringkat mengenai mata pencaharian penduduk Desa Blimbing ditentukan beberapa parameter atau kriteria seperti jumlah tenaga kerja, aspek gender, dan waktu bekerja. Adapun kriteria penilaiannya adalah sebagai berikut:

a.      Jumlah tenaga kerja

Parameter tenaga kerja yaitu dengan meninjau kepentingan jenis mata pencaharian berdasarkan banyak sedikitnya jumlah tenaga kerja. Penentuan ini didasarkan pada jumlah tenaga kerja yang ada pada setiap sektor mata pencaharian penduduk, sehingga dapat membantu untuk mengetahui mata pencaharian yang lebih dominan di Desa Blimbing.

a)             Jika jumlah tenaga kerja > 180 orang, nilainya = 4, dilambangkan dengan §§§§

b)             Jika jumlah tenaga kerja 121-180 orang, nilainya = 3, dilambangkan dengan §§§.

c)             Jika jumlah tenaga kerja 61-120 orang, nilainya = 2, dilambangkan dengan§§.

d)            Jika jumlah tenaga kerja 1-60 orang, nilainya = 1, dilambangkan dengan §.

b.      Tingkat kesejahteraan

Kondisi kesejahteraan dari tenaga kerja pada sektor mata pencaharian tertentu menjadi indikasi bahwa sektor tersebut memberikan sumbangan yang besar atupun kecil untuk peningkatan tenaga kerja.

a)      Apabila sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan berlebih, nilainya = 3, dilambangkan dengan §§§.

b)      Apabila sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan cukup, nilainya = 2, dilambangkan dengan §§.

c)      Apabila tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari/ masih kurang, nilainya = 1, dilambangkan dengan §.

c.   Waktu bekerja

Parameter waktu bekerja ditentukan berdasarkan lama jam kerja dari masing-masing jenis mata pencaharian. Semakin lama jam kerja maka semakin tinggi tingkat produktifitasnya.

a)      Apabila lamanya waktu bekerja > 6 jam, maka nilainya = 1, dilambangkan dengan §.

b)     Apabila lamanya waktu bekerja antara 3 – 6  jam, maka nilainya = 2, dilambangkan dengan §§.

c)      Apabila lamanya waktu bekerja <3 jam, maka nilainya = 3, dilambangkan dengan §§§.

d.  Aspek gender

Parameter ini ditentukan berdasarkan jumlah proporsi kegiatan yang dilakukan oleh tenaga kerja wanita dan tenaga kerja laki-laki.

a)  Apabila perbandingan antara jumlah tenaga kerja pria dan wanita relatif seimbang, nilainya = 3, dilambangkan dengan §§§.

b)  Apabila perbandingan antara jumlah tenaga kerja pria lebih sedikit dibandingkan tenaga kerja wanita, nilainya = 2 dilambangkan dengan §§.

c)  Apabila perbandingan antara jumlah tenaga kerja pria jauh lebih banyak dari tenaga kerja wanita atau keseluruhannya merupakan tenaga kerja pria, maka nilainya = 1, dilambangkan dengan §.

Apabila terdapat dua atau lebih komponen yang jumlahnya sama, maka dilihat dari tingkatan mata pencaharian yang nilai komponennya lebih tinggi. Adapun urutannya adalah:

1)      Jumlah Tenaga Kerja

2)      Tingkat Kesejahteraan

3)      Waktu Bekerja

4)      Aspek Gender

Apabila terdapat dua atau lebih komponen yang jumlahnya sama, dan nilai pada tingkatan komponen-komponen tersebut juga sama, maka untuk menentukan yang paling tinggi rangkingnya adalah mata pencaharian yang paling banyak di masyarakat Desa Blimbing. Matriks peringkat mata pencaharian Desa Blimbing bisa dilihat pada table berikut:

Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulan bahwa mata pencaharian mayoritas penduduk di Desa Blimbing adalah petani hal ini bisa dilihat tata guna terluas adalah pertanian tebu. Untuk Buruh tani sendiri berada di peringkat kedua, dikarenakan jumlah pekerja cukup banyak. Sedangkan pedagang masuk dalam peringkat keempat, karena pedagang memiliki jumlah yang cukup banyak an tinggkat kesejahteraan yang cukup tinggi. Pedagang dalam hal ini adalah berjualan dalam toko, warung, kios, penjual sayur, dan lain sebagainya. Berdasarkan tabel tersebut ada beberapa jenis mata pencaharian penduduk yang memiliki jumlah yang sama namun penentuan peringkatnya berdasarkan komponen yang memiliki jumlah yang paling tinggi sesuai urutannya. Diantaranya adalah Home industry yang memiliki jumlah yang sama dengan PNS, namun Home industry menduduki peringkat keempat dikarenakan memiliki jumlah tenaga kerja yang lebih sedikit. Sehingga mata pencaharian PNS menduduki peringkat ketiga.

2.      Matriks peringkat komoditi produksi pertanian utama

Kriteria yang digunakan untuk penilaian komoditi produksi pertanian utama di Desa Blimbing adalah sebagai berikut:

a.   Hasil produksi

1)   Jika jumlah hasil produksi komoditas tanaman < 70 ton tiap tahun, nilainya = 1 dilambangkan dengan §

2)    Jika jumlah hasil produksi komoditas tanaman 71-90 ton tiap tahun, nilainya = 2 dilambangkan dengan §§

3)   Jika jumlah hasil produksi komoditas tanaman >90 ton tiap tahun, nilainya = 3 dilambangkan dengan §§§

b.   Kualitas

1)      Kualitas tanaman atau hasil produksi baik, nilainya = 3, dilambangkan dengan §§§

2)      Kualitas tanaman atau hasil produksi sedang, nilainya = 2, dilambangkan dengan §§

3)      Kualitas tanaman atau hasil produksi tidak baik, nilainya = 1, dilambangkan dengan §

c.   Keuntungan harga jual

Keuntungan harga jual dilihat berdasarkan hasil perhitungan input – output, adapun penilaiannya adalah sebagai berikut:

1)      Hasil penjualan dapat dikatakan baik, apabila keuntungan setiap panen dapat mengangkat kualitas hidup petani.  Nilainya = 3, dilambangkan dengan §§§

2)      Hasil penjualan dapat dikatakan sedang, apabila keuntungan setiap panen dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari petani (cukup). Nilainya = 2, dilambangkan dengan §§

3)      Hasil penjualan dapat dikatakan kurang baik, apabila keuntungan setiap panen belum bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari petani.  Nilainya = 1, dilambangkan dengan §

d.   Tempat pemasaran

1)      Penjualan dapat dikatakan baik, jika jumlah tempat pemasarannya di desa tersebut hingga keluar kecamatan. Nilainya = 3, dilambangkan dengan §§§

2)      Penjualan dapat dikatakan sedang, jika jumlah tempat pemasarannya di desa tersebut hingga intern kecamatan. Nilainya = 2, dilambangkan dengan §§

3)      Penjualan dapat dikatakan kurang baik, jika pemasarannya hanya di dalam desa, maupun hanya di satu tempat lain. Nilainya = 1, dilambangkan dengan §

Apabila terdapat dua atau lebih komponen yang jumlahnya sama, maka dilihat komoditi yang tingkatan komponennya lebih tinggi nilainya. Adapun urutannya adalah:

a)      Hasil produksi

b)      Kualitas

c)      Keuntungan harga jual

d)     Tempat pemasaran

Apabila terdapat dua atau lebih komponen yang jumlahnya sama, dan nilai pada tingkatan komponen-komponen tersebut juga sama, maka untuk menentukan yang paling tinggi rankingnya adalah jenis tanaman/ternak yang paling banyak dibudidayakan oleh masyarakat.

Berdasarkan tabel tersebut tebu merupakan komoditi utama Desa Blimbing dikarenakan kualitas dan hasil produksi serta keuntungan yang cukup dapat menghidupi para petani. Selanjutnya, jagung menduduki peringkat kedua komoditi utama Desa Blimbing dikarenakan kualitas dan kemudahan cara tanamnya. Sedangkan ketela pohon menjadi urutan terakhir komoditi utama Desa Blimbing.

F.    Arus Masukan Keluaran

Bagan arus masukan dan keluaran digunakan untuk mengkaji sistem-sistem yang ada di masyarakat Desa Blimbing. Sistem tersebut digambarkan ke dalam bagan yang memperlihatkan bagian-bagian dalam sistem, yaitu: masukan (input) dan keluaran (output) serta hubungan antara bagian-bagian dalam sistem itu.

Input meliputi sumber daya yang membuat sistem berjalan dengan baik. Sedangkan output adalah manfaat atau hasil yang diperoleh dari pengolahan sumber daya tersebut. Sistem masukan dan keluaran yang terdapat di Desa Blimbing adalah sebagai berikut:

1.      Pertanian

a.      Tebu

Tahapan penanaman tebu:

a)      Pengolahan lahan

Sebelum proses penanaman bibit dilakukan, lahan harus diolah terlebih dahulu. Pengolahan lahan tersebut dilakukan dengan cara membajak. Beberapa petani menggunakan teknologi modern berupa mesin traktor bajak untuk membajak lahan. Proses pembajakan lahan ini disesuaikan dengan kondisi lahan. Apabila Kondisi lahan bagus, maka lahan dapat dibajak, namun apabila kondisi lahan tidak memungkinkan  seperti tanahnya kering, maka lahan tidak dibajak. Lahan langsung dicangkul dan dilubangi.

b)     Penanaman

Setelah lahan dicangkul dan dilubangi, diisi dengan benih. Untuk satu lubang diisi dua benih dengan posisi benih membujur.

c)      Perawatan

Setelah ditanami benih, lahan dibiarkan selama satu hingga dua bulan hingga benih tumbuh. Setelah itu benih dipupuk dan diairi sebanyak tiga kali. Pemupukan dan pengairan ini tergantung dengan kondisi musim dan hasil akhir yang diinginkan. Pupuk yang biasanya digunakan petani Desa Blimbing yaitu pupuk Urea, Phonska, dan ZA.

d)     Pemanenan

Setelah proses perawatan, proses selanjutnya yaitu pemanenan. Panen Tebu biasanya dilakukan petani Desa Blimbing antara Bulan Juni hingga Agustus.

e)      Paska Panen

Setelah tebu dipanen, proses selanjutnya yaitu penjualan. Proses penjualan tebu di Desa Blimbing ada dua macam, yaitu petani tebu yang menjual tebunya secara langsung ke tengkulak, dan penjualan yang melalui KUD. Penjualan yang melalui KUD berupa sistem kontrak.

Permasalahan yang ditemui petani tebu Desa Blimbing mayoritas adalah permasalahan air untuk irigasi. Untuk irigasi, petani tebu Desa Blimbing mengandalkan air dari Sungi Watu Dakon, dan Sungai Brantas, namun pada saat musim kemarau panjang, petani menggunakan air bawah tanah dengan melakukan pengeboran, kenudian di pompa menggunakan mesin pompa, sehingga petani harus menambah biaya untuk proses irigasi tersebut. Permasalahan lainnya yaitu hama tikus.

Teknologi yang digunakan petani dalam mengolah lahan, yaitu:

  1. Sabit digunakan untuk memotong rumput dan memotong tebu saat panen
  2. Cangkul dan alat pembajak untuk mengolah tanah pertanian

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui total pendapatan petani tebu selama satu tahun adalah Rp. 14.900.000. Pendapatan tersebut adalah pendapatan bersih setelah dipotong biaya produksi yang berupa pembelian bibit, biaya irigasi, pupuk, dan ongkos buruh selama proses hingga panen. Bagan arus masukan keluaran pertanian tebu dapat dilihat pada gambar 6.16.

b.      Jagung

Tahapan penanaman jagung:

a)      Pengolahan lahan

Sebelum ditanami benih jagung, lahan harus dibersihkan terlebih dahulu dari sisa tanaman sebelumnya, setelah itu lahan dibajak dengan menggunakan cangkul atau traktor. Setelah dicangkul, lahan dilubangi dengan kedalaman kurang lebih 5cm.

b)     Penanaman

Setelah pengolahan lahan, berikutnya yaitu proses pemberian benih. Setiap lubang dengan kedalaman 5cm, diberi benih 1 butir.

c)      Perawatan

Proses perawatan ini terdiri dari penyiangan, pemupukan, dan pengairan. Penyiangan atau proses menghilangkan tanaman rumput liar, dilakukan biasanya 2 hingga 3 minggu sekali. Untuk proses pemupukan dilakukan 3 kali untuk sekali musim tanam, dan untuk proses pengairan tergantung pada musim. Namun pengairan yang dilakukan umumnya yaitu pada saat awal pembenihan dan ketika tanaman jagung akan berbunga.

d)     Pemanenan

Proses pemanenan tanaman jagung dilakukan 3 kali selama satu kali musim tanam.

e)      Paska Panen

Setelah dilakukan pemanenan, proses selanjutnya yaitu proses perontokan biji jagung dari tongkolnya dan pengeringan biji jagung. Setelah itu proses penjualan. Petani jagung biasanya menjual jagungnya ke tengkulak yang menjadi langganan mereka.

Permasalahan yang dialami petani jagung Desa Blimbing hampir sama dengan petani tebu yaitu permasalahan pengairan lahan. Untuk pengairan lahan, petani jagung Desa Blimbing menggunakan air bawah tanah, dengan cara melakukan pengeboran, kemudian di pompa menggunakan mesin pompa, sehingga petani harus menambah biaya untuk proses irigasi tersebut. Permasalahan lainnya yaitu hama. Proses panen tanaman jagung dilakukan setahun 3 kali. Berikut perhitungan biaya tanaman jagung untuk sekali masa tanam.

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui total pendapatan petani tebu selama satu kali musim tanam adalah Rp. 10.380.000. Pendapatan tersebut adalah pendapatan bersih setelah dipotong biaya produksi yang berupa pembelian bibit, biaya irigasi, pupuk, dan ongkos buruh selama proses hingga panen. Bagan arus masukan keluaran pertanian jagung dapat dilihat pada gambar 6.17.

2.      Peternakan

Peternakan juga merupakan salah satu sektor yang ada di Desa Blimbing.Peternakan yang ada di Desa Blimbing yaitu peternakan sapi dan peternakan ayam buras.

a.      Peternakan Sapi

Peternakan sapi yang ada di desa Blimbing dengan jumlah sapi sebanyak 57 ekor.Modal awal yang digunakan untuk membeli seekor sapi sekitar 6 juta. Sebagian besar sapi yang yang sudah dewasa akan dijual ke tengkulak sapi. Untuk proses perawatan biasanya peternak membeli rumput dengan harga dua puluh ribu per hari. Kotoran dari sapi dibakar untuk mencegah tumbuhnya nyamuk.Peternak hanya bekerja merawat sapi, tidak memiliki pekerjaan sampingan. Peternak juga tidak pernah menggunakan vaksin atau obat-obatan lain. Hal ini dapat menimbulkan masalah, karena apabila ada ternak sapi yang terkena penyakit akan mengurangi nilai jual, dan akan menyebarkan penyakit ke ternak lainnya.

b.      Peternakan Ayam Buras

Jumlah ternak ayam buras yang ada di Desa Blimbing sebanyak 2001 ekor. Proses awal ternak ayam buras, dimulai dengan pembelian ayam buras kecil dengan harga Rp. 4.000 per ekor. Proses penjualan ayam buras, biasa dilakukan ketika ayam berusia 1 tahun

Pada tabel tersebut dapat dilihat pendapatan bersih peternak ayam buras sebesar Rp. 1.000.000.Hasil  tersebut adalah pendapatan bersih, setelah dikurangi biaya produksi.

G.    Kajian Gender

Desa Kesamben memiliki beberapa sektor mata pencaharian. Kajian gender digunakan untuk mengetahui proporsi laki-laki dan wanita dalam suatu sektor mata pencaharian. Berikut merupakan kajian gender di desa Kesamben.

1. Sektor pertanian

Kajian gender di sektor pertanian desa Kesamben memiliki perbandingan laki-laki dan wanita sebesar 70%:30%

Tugas perempuan adalah:

a. Pembibitan

b. Penanaman

c. Penyiangan halus

Tugas laki-laki adalah:

a. Persiapan lahan

b. Pembibitan

c. Pemupukan

d. Pengairan

e. Panen

f. Penyiangan kasar

g. Penjualan hasil

2. Sektor peternakan

Kajian gender di sektor peternakan desa Kesamben memiliki perbandingan laki-laki dan wanita sebesar 75%:25%.

Tugas laki-laki adalah:

a. Mencari pakan

b. Perawatan

c. Penjualan

Tugas perempuan:

a. Perawatan

3. Sektor jasa

Kajian gender di sektor jasa desa Kesamben memiliki perbandingan laki-laki dan wanita sebesar 50%:50%.

Tugas laki-laki adalah:

a. Penyediaan bahan

b. Pengerjaan

Tugas perempuan adalah:

a. Pengerjaan

b. Penjualan

4. Sektor industri

Kajian gender di sektor jasa desa Kesamben memiliki perbandingan laki-laki dan wanita sebesar 63%:33%.

Tugas laki-laki adalah:

a. Penyediaan bahan

b. Pengerjaan

Tugas perempuan adalah:

a. Penjualan


6.3.7             Kelembagaan

Kelembagaan di Desa Blimbing terdiri dari beberapa lembaga yang saling berkaitan satu sama lian. Kelembagaan desa dalam keadaan aktif,dan ada yang sudah tidak berjalan lagi. Hal ini terlihat dari berlangsungnya kegiatan yang dilakukan lembaga. Dari beberapa lembaga, Lembaga pengurus desa merupakan salah satu lembaga yang paling aktif. Lembaga pengurus desa berperaan untuk penyalur aspirasi masyarakat dan melakukan pelayanan kepada masyarakat. Ada pun macam-macam kelembagaan di Desa Blimbingsebagai berikut :

6.3.7.1       Lembaga formal

Lembaga formal di Desa Blimbing seperti perangkat desa.Pemerintahan desa adalah badan penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah desa dan badan permusyawaratan desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan aspirasi dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah desa adalah kepala desa dan perangkat desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa.

Berikut merupakan kondisi eksisting kelembagaan di Desa Blimbing

1. Perangkat Desa

Perangkat desa mempunyai masa jabatan selama 5 tahun. Kepala Desa dipilih langsung oleh masyarakat selama 5 tahun sekali

a. Kepala Desa

Memimpin dan menjalan kan pemerintahan desa yang merupakan kepala pemerintahan dalam struktur pemerintahan desa.dipilih langsung oleh masyarakat selama 5 tahun dan hanya dapat menjabat selama 2 periode.

b. Sekertaris Desa

Mengelola sistem administrasi sehingga tercipta pemerintahan yang kondusif sebagai pemacu pembangunan. Memiliki wewenang sebagai pengambil keputusan kedua setelah kepala desa. Penghubung antara pemerintahan kecamatan dengan pemerintahan desa.

a)      Lembaga Pemerintahan

Jumlah Aparat (Pemerintahan Desa)          : orang

Jumlah Kepala Dusun                                 : 4 orang

b)      Lembaga Kemasyarakatan

c. BPD

Merupakan lembaga perwakilan desa yang diangkat/diusulkan.BPD berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. BPD berfungsi menetapkan peraturan desa bersama kepala desa dan menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Jumlah anggota di Desa Blimbing adalah 4orang.

d. LPMD (Lembaga Permusyawaratan Masyarakat Desa)

LPMD merupakan lembaga yang berhak mngadakan musyawarah desa sebagai peengambil putusan tertinggi dalam segala pertimbangan tentang desa. Pos Pelayanan Terpadu.

e. Posyandu

Merupakan lembaga yang menyoroti tentang kesehatan bayi dan ibu hamil di desa.Di Desa Blimbing terdapat 5 pengurus posyandu yang terdapat di 5 dusun.

6.3.7.2           Non Formal ( harus ada struktur dan aktifitasnya)

a)      Karang Taruna

Karang taruna adalah lembaga khusus pemberdayaan kepemudaan yang anggotanya terdiri dri para pemuda Desa . kegiatan yang dilakukan adalah olahraga dan kegiatan lomba Agustusan.Namun, sekarang kegiatan tersebut belum bisa dikatakan aktif dikarenakan banyaknya pemuda yang bekerja diluar desa dan tidak bisa berperan aktif dalam kegiatan tersebut.

b)      Kelompok Tani

Kelompok tani merupakan suatu wadah perkumpulan petani unutuk mengatasi masalah pertanian seperti pupuk, dan juga peminjaman modal cocok tanam. Kelompok tani saling membantu antar anggotanya missal saja saat cocok tanam ataupun penyediaan bibit. Namun demikian kelompok tani Desa Blimbing tidak melakukan terobosan mengenai pemasaran, sehingga pemasaran hasil pertanian masih cenderung individu. Ditunjukan pada gambar 6.19.

c)      PKK

PKK digerakkan oleh ibu-ibu PKK yang menyoroti tentang kesejahteraan keluarga.Peran utamanya adalah dalam peningkatan SDM masyarakat desa agar dapat mengangkat tingkat perekonomian.Di Desa Blimbing kegiatan PKK lebih menyoroti tentang peran wanita.Contohnya adalah pemberdayaan wanita dalam peningkatan ekonomi keluarga.Ditunjukan pada gambar 6.20.

d)      LDII

Melakukan kegiatan keagamaan, LDII juga berperan sebagai tempat pendidikan bagi umat muslim.

e)      Jamaah Tahlil

Melakukan kegiatan pengajian secara rutin setiap seminggu sekali yang terdiri dari jamaah laki-laki dan perempuan yang terpisahkan harinya.

6.3.7.3       Hubungan Antar lembaga

Setiap lembaga memiliki hubungan yang sangat erat, berikut ini merupakan diagram venn hubungan antar lembaga di Desa Blimbing.

6.3.8    Potensi dan Masalah

6.3.8.1 Potensi

Berdasarkan hasil survey di desa Blimbing, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, mempunyai beberapa potensi yang bisa dikembangkan di berbagai sektor dan bidang. Potensi desa blimbing ditunjukan pada peta 6.20. Beberapa potensi-potensi yang terdapat di desa blimbing antara lain adalah sebagai berikut:

A.    Bidang sarana dan prasarana

Terdapat jalan Kabupaten yang di lengkapi rambu – rambu dan zebra cross didepan sekolah untuk tempat menyebrang. Selain itu juga terdapat jalan lingkungan dan pertanian untuk mobilisasi masyarakat.Di Desa Blimbing juga terdapat drainase sebagai fasilitas pembuangan limbah air rumah tangga.

Desa Blimbing akan dilewati jalan tol yang menghubungkan Mojokerto dengan Kertosono. Dengan kondisi ini, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

B.    Bidang pemerintahan

Dalam bidang pemerintahan, di desa Blimbing terdapat kantor desa, balai desa dan balai dusun yang cukup baik, selain itu tingkat pelayanan pemerintah desa dalam melayani masyarakat juga sudah cukup baik.

C.     Bidang pendidikan

Di desa Blimbing terdapat terdapat bebrapa sarana penunjang pendidikan seperti Sekolah Dasar (SD/MI), TK/RA, pra TK dan Taman Pendidikan Quran (TPQ).

D.    Sektor pertanian

Dalam sektor pertanian, desa Blimbing memiliki potensi yang sangta besar, karena sebagian besar msyarakatnya adalah petani dan sektor pertanian utamanya 90% adalah tebu. Adapun faktor-faktor penunjang sektor pertanian antara lain lahan pertanian yang luas dan cukup subur, adanya saluran irigasi, terdapat jalan menuju lokasi pertanian, dan terdapat kegiatan simpan pinjam bagi kelompok tani.

E.    Sektor ekonomi

Sektor ekonomi, ditunjang oleh produksi masyarakat dari beberapa bidang.Misalnya dari sektor pertanian, masyarakat memproduksi sari tebu dari hasil panen mereka. Selain itu, juga terdapat home industry seperti meubel dan konveksi ynag pemasarannya hingga luar kota bahkan luar pulau.

F.     Permukiman

Di bidang permukiman, desa Blimbing sudah cukup baik.Penataan lokasi permukiman yang cukup baik serta ditunjang dengan adanya WC/MCK umum, serta danya program rehabilitasi rumah tidak layak huni.

G.     Bidang kesehatan

Di desa blimbing terdapat penujnjang-penunjang saran kesehatan seperti terdapat polindes, puskesmas dan fasilitas jamkesmas bagi masyarakat yang kurang mampu.

6.3.8.2 Masalah

Selain Potensi yang bisa dikembangkan, ada beberapa masalah yang terdapat di Desa Blimbing. Masalah tersebut harus diidentifikasi yang selanjutnya dicari penyebabnya dan kemudian diberikan arahan atau solusi untuk menyelesaikan masalah yang ada sehingga potensi dapat dikembangkan secara optimal.Permasalahan desa blimbing ditunjukan pada peta 6.21. Permasalahan di Desa Blimbing terkait dengan:

A.    Bidang Sarana dan prasarana

  1. Pada jalan kabupaten sering terjadi kecelakaan karena kondisi jaan banyak yang berlubang dan jalan sempit.
  2. Jalan lingkungan sebagian ada yang masih jalan tanah.
  3. Jalan pertanian masih perlu perhatian khusus karena kondisi jalan tanahnya yang rusak.
  4. Drainase masih banyak yang perlu diakukan perbaikan bahkan ada titik lokasi yang perlu dibangun mulai nol (belum ada drainase).
  5. Jumlah WC umum kurang dan kondisi buruk

B.     Bidang pemerintahan

  1. Kondisi kantor desa, balai desa maupun balai dusun kurang memadahi bahkan masih ada dusun yang belum punya balai dusun karena kurangnya anggaran untuk perbaikan dan pembangunan gedung tersebut.

C.    Bidang pertanian

  1. Hasil pertanian kurang baik
  2. Luas lahan tidak seimbang dengan jumlah pekerja, karena mayoritas mata pencaharian penduduk desa Blimbing adalah sebagai buruh tani
  3. Saluran irigasi kurang baik dan debit air yang dibutuhkan petani masih kurang
  4. Jalan menuju lokasi pertanian kurang baik
  5. Kurangnya modal untuk menggarap sawah karena hasil yang didapat petani kurang seimbang dengan modal yang dikeluarkan.

D.    Bidang ekonomi

  1. Terbatasnya modal para pengusaha kecil untu menjalankan kegiatan produksinya
  2. Persaiangan dalam pemasaran dan penjualan para pengusaha kecil kalah dengan perusahaan yang besar sehingga produktivitas para pelaku home industri menurun

E.     Bidang permukiman

  1. Masih seringnya banjir di permukiman warga karena drainase kurang baik
  2. Program rehabilitasi rumah tidak layak huni dari Pemerintah kurang, karena masih banyak rumah warga yang tidak layak huni
  3. Di Dusun Prabon, terdapat permukiman di dekat sungai Watu Dakon yang rawan bencana erosi karena tidak ada plengsengan di Permukiman tersebut. Daerah rawan bencana ditunjukan pada peta 6.22

F.    Bidang kesehatan

  1. Kurangnya fasilitas kesehatan yang tersedia di Pollindes
  2. Kurangnya fasilitas Jamkesmas dan Jamkesdaprov bagi masyarakat kurang mampu
  3. Sarana posyandu kurang
  4. Gizi balita kurang baik
  5. Peningkatan kader posyandu kurang

6.3.9 Kegiatan PRA

6.3.9.1 Stakeholder dalam PRA

Pelaksanaan PRA di Desa Blimbing melibatkan banyak komponen masyarakat yang memiliki perspektif berbeda-beda mengenai kondisi yang ada di Desa Blimbing. Pihak yang terlibat dalam kegiatan PRA antara lain:

  1. Petani
  2. Buruh tani
  3. Pedagang
  4. Tokoh masyarakat
  5. Perwakilan karang taruna
  6. Aparat Desa
  7. Ketua Gapoktan

6.3.9.2 Pelaksanaan Kegiatan PRA

Untuk memperoleh  data-data  primer di Desa Blimbing dilakukan dengan cara survey lapangan dan menggunakan pendekatan langsung pada masyarakat desa melalui kegiatan PRA. Kegiatan PRA ini dilakukan dua kali, yaitu pada tanggal 26 dan 27 Oktober 2011 bertempat di rumah salah satu warga Desa Blimbing. Sumber data yang diperoleh berasal dari masyarakat Desa Blimbing, tokoh masyarakat, dan beberapa staf pemerintahahn desa. Selain untuk mendapatkan informasi, kegiatan PRA ini juga bertujuan untuk menyatukan aspirasi seluruh masyarakat Desa Blimbing sehingga diharapkan dapat menghasilkan kesamaan pendapat dalam mengkaji potensi dan masalah yang ada di Desa Blimbing.

Adapun alat-alat pengkajian yang digunakan dalam PRA Desa Blimbing meliputi:

 A. Perumusan potensi dan masalah (penggalian potensi dan perumusan akar masalah)

Perumusan potensi dan masalah dalam PRA dilakukan dengan cara berdiskusi dengan seluruh stakeholder, perangkat desa, pekerja di Desa Blimbing, penduduk Desa Blimbing, dll untuk membahas gambaran umum dan isu-isu utama yang berkembang di Desa Blimbing. Gambaran umum dan isu utama Desa Blimbing menghasilkan sebuah potensi dan masalah dimana potensi dan masalah tersebut mendapatkan informasi dari dua rangkaian kegiatan PRA, transek desa dan akar masalah Desa Blimbing. Sebelun dilakukan PRA untuk transek desa dan akar masalah, dilakukan observasi terlebih dahulu yang selanjutnya didiskusikan kepada penduduk Desa Blimbing untuk keakurasian data tersebut. Hasil PRA Desa Blimbing menunjukkan bahwa Desa Blimbing memiliki beberapa isu utama, yakni: 1) masalah jalan: jaringan jalan yang belum diaspal di Dusun Prabon dan penerangan jalan, 2) Masalah pertanian: irigasi persawahan, 3) Masalah drainase yang tersumbat sampah, 4) Permasalahn sanitasi, dan 5) Masalah industry rumah tangga yang kurang berkembang serta keadaan sosial lainnya.

B.  Sejarah Desa

Teknik penelusuran alur sejarah desa adalah dengan menggunakan teknik PRA yang digunakan untuk mengungkapkan kembali sejarah masyarakat di Desa Blimbing berdasarkan penulisan masyarakat sendiri di dalam kegiatan bagan kecenderungan.Masyarakat mengungkapkan keadaan mereka di masyarakat dengan mengkaji latar belakang atau peristiwa-peristiwa di masa lalu, mengkaji perubahan-perubahan dan masalah-masalah yang terjadi, dan mengkaji hubungan sebab akibat antar kejadian. Kejadian-kejadian tersebut, seperti: tata guna lahan, jalan, transportasi, air bersih, listrik, permukiman, sarana, lembaga desa, sosial, budaya, dan irigasi.

Kegiatan PRA untuk sejarah desa melalui bagan kecenderungan ini dilakukan dua periode, pertama pada tanggal 25 Oktober 2011 setelah acara yasinan ibu-ibu dan kedua pada tanggal 27 Oktober 2011 setelah yasianan bapak-bapak. Sebelumnya dilakukan wawancara kepada ibu-ibu tentang sejarah pembangunan dan pengembangan desa, yang selanjutnya dilakukan PRA bagan kecenderungan kepada bapak-bapak untuk mengetahui apakah bagan kecenderungan tersebut telah sesuai dengan kondisi yang ada di Desa Blimbing.

Berdasarkan hasil PRA tersebut, baik secara informal dan formal dengan menggunakan interval 10 tahunan, mulai tahun 1957-2011, di dapatkan informasi dan data bahwa Dusun Blimbing merupakan pusat Desa Blimbing dan Dusun Prabon merupakan wilayah yang dengan kualitas infrastruktur rendah.

C.  Transek Desa

Transek Desa merupakan penggambaran bentuk samping desa yang dapat dimisalkan sebagai irisan bumi, dalam transek desa digambarkan adanya topografi desa beserta komponennya.Transek juga menggambarkan ketinggian dataran (kontur) Desa Blimbing, yang berfungsi sebagai penempatan kesesuaian tata guna lahan, serta rancangan solusi dan analisis untuk masalah drainase. Komponen yang terdapat di di Desa Blimbing antara lain permukiman, kebun tebu, sungai, irigasi, dan jalan. Dalam hal ini Desa Blimbing digambarkan dalam transek dari arah barat ke timur dan ujung utara ke selatanTransek Desa merupakan salah satu rangkaian kegiatan PRA (Participatory Rural Appraisal) yang dilakukan kepada masyarakat Desa Blimbing, khususnya Dususn Prabon, pada PRA kedua. Sistem PRA Transek Desa dilakukan pada tanggal 27 Oktober 2011, dimana masyarakat hanya melakukan proses pengecekan terhadap hasil survey sebelumnya terhadap transek desa.

Transek Desa merupakan penggambaran bentuk samping desa yang dapat dimisalkan sebagai irisan bumi, dalam transek desa digambarkan adanya topografi desa beserta komponennya.Transek juga menggambarkan ketinggian dataran (kontur) Desa Blimbing, yang berfungsi sebagai penempatan kesesuaian tata guna lahan, serta rancangan solusi dan analisis untuk masalah drainase. Komponen yang terdapat di di Desa Blimbing antara lainpermukiman, kebun tebu, sungai, irigasi, dan jalan. Dalam hal ini Desa Blimbing digambarkan dalam transek dari arah barat ke timur dan ujung utara ke selatan

Transek Desa merupakan salah satu rangkaian kegiatan PRA (Participatory Rural Appraisal) yang dilakukan kepada masyarakat Desa Blimbing, khususnya Dususn Prabon, pada PRA kedua. Sistem PRA Transek Desa dilakukan pada tanggal 27 Oktober 2011, dimana masyarakat hanya melakukan proses pengecekan terhadap hasil survey sebelumnya terhadap transek desa.

D.    Pemetaan Desa

Pemetaan desa dilakukan dalam kegiatan PRA dengan maksud untuk menggambarkan kondisi wilayah Desa Blimbing beserta potensi dan masalah yang ada.Pemetaan desa bertujuan mengetahui batas adaministrasi serta memetakan keadaan eksisting di Desa Blimbing, misalnya lokasi permukiman, sarana prasarana, dan utilitas umum.

Dalam pemetaan Desa Blimbing tergambar persil-persil perumahan dan fasilitas umum seperti posyandu, kantor desa, dan masjid.

E.    Diagram Aktivitas

Diagram aktivitas merupakan salah satu alat yang digunakan dalam PRA Desa Blimbing untuk mengkaji mengenai kegiatan harian yang dilakukan oleh keluarga yang profesinya ada di Desa Blimbing. Diagram aktivitas ini digunakan untuk visualisasi kegiatan harian, sehingga memudahkan dalam mengidentifikasi dinamika harian setiap keluarga masyarakat. Setiap diagram aktivitas mewakili satu profesi pada masyarakat yang mempunyai ciri khas dan aktivitas yang berbeda dengan keluarga lainnya yang mempunyai profesi yang berbeda.

F.     Kalender Musim

Kalender musim menjelaskan mengenai jadwal aktivitas penduduk Desa Blimbing yang mayoritas sebagai petani kebun, mulai penebaran bibit sampai jadwal panen dalam kurun waktu satu tahun. Dalam kalender musim disertai  pula informasi yang  mengenai waktu persiapan lahan tanam, penanaman bibit, serta pengelolaan lahan perkebunan dalam kurun waktu sebelum pemanenan.
Komoditas utama Desa Blimbing adalah tebu.Tebu dapat dipanen setelah berumur sekitar satu tahun, pemanenannya dilakukan satu tahun sekali.

G.    Bagan Kecenderungan Desa

Bagan kecenderungan berfungsi sebagai pemberian informasi tentang peningkatan perkembangan desa, baik dari segi kependudukan, keberadaan sarana dan prasarana, kondisi pemanfaatan lahan, dan perkembangan transportasi yang digunakan.Berdasarkan hasil PRA, diketahui bahwa Desa Blimbing mengalami perkembangan dari tahun ketahun.Hal ini dapat dilihat dari bagan yang tertera yang menunjukan adanya perkembangan di Desa Blimbing.Seperti perkembangan alat transportasi yang kian berkembang, kelembagaan dan sebagainya.Peserta yang berpartisipasi dalam pengisian bagan kecenderungan ini adalah seluruh masyarakat, tokoh, dan perwakilan dari tiap-tiap lembaga kemasyarakatan.

6.3.8.3 Partisipasi Masyarakat dalam Pencarian Solusi dari Permasalahan  

Kegiatan PRA dilaksanakan di Desa Blimbing tidak hanya untuk mengetahui potensi dan masalah yang ada tetapi juga untuk mendorong masyarakat ikut berpartisipasi dalam menyelesaikan permasalahan yang ada untuk mendukung program pembangunan. Adapun partisipasi masyarakat dalam kegiatan PRA yang dilakukan adalah memberika masukan serta berupaya memberi arahan penyelesaian terhadap masalah yang mereka hadapi.

Solusi yang diberikan masyarakat terhadap masalah dalam kegiatan PRA sebagai berikut : A.    Infrastruktur

  1. Masyarakat mengharapkan adanya peningkatan infrastruktur jalan yaitu mengenai masalah perkerasa jalan yang menghubungkan antar dusun maupun jalan utama karena kondisi jalan yang masih belum memadai.
  2. Mengharapkan bantuan pemerintah dalam penanganan jalan yang tergenang banjir saat musim hujan, karena jalan tersebut merupakan akses utama keluar masuk Desa Blimbing.

B.     Ekonomi masyarakat

  1. Mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah kepada kelompok tani berupa pengairan untuk irigasi perkebunan mereka
  2. Mengharapkan adanya KUD untuk kemajuan penjualan komoditas utama masyarakat.

6.3.9 Kebijakan Terkait

Kebijakan terkait berfungsi untuk mengatur pembangunan dan pengembangan desa  agar pembangunan tersebut bersifat efektif, optimal dan suistanable development. Kebijakan terkait mengenai desa perbatasan untuk Desa Blimbing dibedakan menjadi dua jenis kebijakan, yaitu: kebijakan internal dan kebijakan eksternal.

6.3.9.1 Kebijakan internal 

Kebijakan internal merupakan kebijakan terkait berasal dari dalam administrasi desa tersebut. Kebijakan ini berasal dari perundang-undangan dan peraturan di daerah, sepertikan RTRW Kabupaten, RDTRK Kecamatan, dan hasil musrembangdes.

A.           RTRW Kabupaten

Untuk mewujudkan tujuan penataan ruang wilayah, ditetapkan kebijakan dan strategi perencanaan ruang wilayah, baik untuk wilayah secara umum maupun terpadu. Dalam melaksanakan pembangunan (visi misi) antara lain meliputi kebijakan penetapan pola ruang wilayah, kebijakan penetapan kawasan strategis, kebijakan penetapan fungsi kawasan. Kebijakan dan strategi sistem perdesaan, sebagai berikut:

  1. Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan strategis

Kebijakan  dan strategi pengembangan kawasan strategis kabupaten meliputi:

a. Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan meliputi:

a)           Penetapan Kawasan Strategis Kabupaten yang berfungsi lindung;

b)          Pencegahan pemanfaatan ruang di kawasan strategis kabupaten yang      berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan;

c)           Pembatasan pemanfaatan ruang di sekitar kawasan strategis kabupaten yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan;

d)          Pembatasan pengembangan prasarana dan sarana di dalam dan di sekitar kawasan strategis kabupaten yang dapat memicu perkembangan kegiatan budidaya;

e)           Pengembangan kegiatan budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis kabupaten yang berfungsi sebagai zona penyangga pemisah antara kawasan lindung dengan kawasan budidaya terbangun; dan

f)           Rehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat dampak pemanfaatan ruang yang berkembang di dalam dan di sekitar kawasan strategis kabupaten.

b. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan perekonomian wilayah yang produktif, efisien dan mendorong peran wilayah Kabupaten Jombang dalam perkembangan wilayah provinsi dan nasional meliputi:

a)             Pengembangan pusat pertumbuhan berbasis potensi sumberdaya alam dan kegiatan budidaya unggulan sebagai penggerak utama pengembangan wilayah;

b)            Penciptaan iklim investasi yang kondusif;

c)             Pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung kawasan;

d)            Pengelolaan dampak negatif kegiatan budidaya agar tidak menurunkan kualitas lingkungan hidup dan efisiensi kawasan;

e)             Intensifikasi promosi peluang investasi;

f)             Peningkatan pelayanan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi;

g)            Pemberlakuan insentif dan stimulan untuk mempercepat perwujudan kawasan strategis.

c. Pengembangan kawasan tertinggal untuk mewujudkan pemerataan pembangunan dan mengurangi kesenjangan antar wilayah di Kabupaten Jombang, meningkatkan taraf hidup masyarakat secara merata dan adil meliputi:

a)             Pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal dan berkelanjutan;

b)            Pembukaan dan perluasan akses serta peningkatan sarana pelayanan komunikasi dan transportasi antara kawasan tertinggal dengan pusat pertumbuhan wilayah;

c)             Peningkatan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi masyarakat;

d)            Peningkatan akses masyarakat ke sumber pembiayaan;

e)             Peningkatan kualitas dan kapasitas sumberdaya manusia dalam pengelolaan kegiatan ekonomi; dan

f)             Penyiapan infrastruktur pendukung bagi pengembangan kawasan strategis.

B.     RDTRK Kecamatan

Pokok utama yang dibahas dalam Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kesamben, yaitu penyiapan ruang kegiatan pada tiap Bagian wilayah Kota agar tercipta keterpaduan tatanan ruang perkotaan. Wilayah perencanaan bagi Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan kesamben adalah wilayah kecamatan sesuai dengan Batas Wilayah Kecamatan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah kabupaten Daerah Tingkat II Jombang dengan luas wilayah 50,64 km2. RDTRK Kesamben memiliki tujuan untuk:

a. Meningkatkan taraf hidup masyarakat kota, dengan cara mengembangkan sektor-sektor kegiatan perkotaan sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat

b. Meningkatkan kelengkapan fasilitas pelayanan masyarakat

c. Mengatur kegiatan-kegiatan dalam kota.

d. Mengatur persebaran di seluruh bagian wilayah kota dengan kota dengan pusat kegiatan tetap di pusat Kota Kesamben, baik berupa sarana prasarana, ekonomi, sosial, budaya, agaman.

1.   Kebijaksanaan Dasar Rencana

Fungsi Kota Kecamatan Kesamben antara lain:

a. Fungsi pusat permukiman penduduk

b. Pusat kegiatan koleksi dan distribusi

c. Pusat kegiatan industri kecil

2. Pengumpul dan distribusi tingkat pertanian

6.3.9.2 Kebijakan eksternal

Kebijaakan eksternal untuk Desa Blimbing ada pada beberapa kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat, antara lain :

  1. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa mengatur masalah pembentukan desa, kelembagaan desa dan perangkat-perangkat desa.
  2. Berdasarkan Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa diatur masalah keuangan desa, seperti Anggaran Pendapatan dan Belanja (APB) Desa dan perencanaan pembangunan desa pada pasal 63, 64,65 dan 66. Dalam pasal tersebut, pembangunan desa disusun secara berjangka, RPJM untuk jangka waktu 5 (lima) tahun, selanjutnya dijabarkan dengan rencana kerja RKP-Desa yang berjangka 1 tahun.
  3. Berdasarkan peraturan Permendagri No. 37 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyusunan APBD Tahun 2011 menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten/Kota menganggarkan bagian dari dana perimbangan keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit 10%, yang pembagian untuk setiap Desa secara proposional yang merupakan Alokasi Dana Desa (ADD) sesuai dengan maksud Pasal 68 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2005 tentang Desa. Peraturan ini memberikan bantuan keuangan kepada desa untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat dan desa.
  4. Penentuan Batas Desa ditetapkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 27 Tahun 2006 tentang Penetapan dan Penegasan Batas Desa. Isi peraturan ini berisikan tim penegapan dan penegasan batas desa, cara penegasan batas desa, prinsip penegasan desa, teknis penegasan batas desa secara spesifikasi, dan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s